“Cari kerja yang sesuai passion aja.”
Kalimat itu terdengar sederhana, sampai kamu benar-benar mencoba mencarinya. Karena kenyataannya, banyak orang di umur 20-an justru bingung, sebenernya passion mereka apa?
Udah coba banyak hal tapi tetap nggak yakin. Lihat orang lain keliatan punya arah hidup bikin makin insecure. Akhirnya mulai mikir “apa aku nggak punya passion ya?”
Padahal belum tentu begitu.
Passion Itu Tidak Selalu Datang Tiba-Tiba
Banyak orang tumbuh dengan bayangan kalau passion itu seperti “panggilan hidup” yang suatu hari akan muncul sendiri. Padahal kenyataannya, passion sering kali dibentuk pelan-pelan lewat pengalaman, eksplorasi, dan proses mencoba banyak hal.
Dikutip dari buku So Good They Can’t Ignore You karya Cal Newport (2012), konsep “follow your passion” justru bisa membuat banyak orang merasa cemas dan kehilangan arah karena menganggap semua orang seharusnya sudah tahu tujuan hidupnya sejak awal.
Dalam bukunya, Cal Newport menjelaskan bahwa passion sering berkembang setelah seseorang membangun skill, rasa percaya diri, dan pengalaman bukan muncul begitu saja sejak awal.
Jadi kalau sampai sekarang kamu masih bingung, itu bukan berarti ada yang salah sama kamu.
Banyak Gen Z Terlalu Sibuk Survival
Kadang masalahnya bukan kamu nggak punya passion. Tapi kamu terlalu lelah untuk mencarinya. Tekanan ekonomi, tuntutan sosial, burnout, overthinking soal masa depan, semuanya bikin banyak orang lebih fokus bertahan hidup dibanding eksplorasi diri.
Dilansir dari Harvard Bussines Review dalam artikel karya Jon M. Jachimowicz dan Jacqueline Brassey (2021), terlalu mengidealkan passion justru dapat meningkatkan tekanan psikologis, terutama pada anak muda yang merasa harus menemukan pekerjaan impian secepat mungkin.
Akibatnya, banyak orang merasa gagal hanya karena belum menemukan satu hal yang benar-benar mereka cintai.
Media Sosial Bikin Semua Orang Kelihatan Sudah Punya Arah
Ini juga salah satu alasan kenapa banyak orang makin stres soal passion. Di media sosial, semua orang terlihat sukses, produktif, tahu tujuan hidupnya, dan passion-nya jelas banget.
Padahal yang terlihat di internet sering cuma hasil akhirnya. Kita jarang lihat fase bingungnya. Fase gagal. Fase mencoba banyak hal tapi nggak cocok.
Dikutip dari jurnal Psychology Computers in Human Behavior karya Leon Festinger yang teorinya kembali banyak dipakai dalam riset media sosial modern tentang social comparison (2020–2024), kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di internet dapat meningkatkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri dan membuat seseorang merasa tertinggal dalam hidup.
Makanya banyak Gen Z sekarang merasa “kok semua orang tahu mau jadi apa selain aku?”
Passion Tidak Harus Selalu Jadi Karier
Kadang kita juga terlalu memaksa passion untuk menghasilkan uang. Padahal nggak semua hal yang kita suka harus dijadikan pekerjaan utama.
Ada orang yang passion-nya di musik tapi kerja di bidang lain. Ada yang suka menulis tapi tetap kerja kantoran. Ada yang belum punya satu passion besar, tapi menikmati banyak hal kecil. Dan itu valid.
Dikutip dari buku The Good Enough Job karya Simone Stolzoff (2023), terlalu menggantungkan identitas dan kebahagiaan pada pekerjaan dapat membuat seseorang lebih mudah burnout dan kehilangan arah ketika karier tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Karena hidup manusia sebenarnya lebih luas daripada pekerjaan saja.
Mungkin Passion Kamu Tidak Hilang, Kamu Cuma Belum Punya Ruang Untuk Mengenalnya
Kadang passion nggak muncul karena kita terlalu sibuk mengejar validasi, uang, atau ekspektasi orang lain. Sampai lupa bertanya “sebenernya aku suka apa?”
Dan mungkin jawaban itu memang nggak datang secepat itu. Karena mengenal diri sendiri juga butuh waktu. Butuh mencoba. Butuh gagal. Butuh bingung. Butuh berubah berkali-kali.
Jadi kalau sekarang kamu masih belum tahu mau jadi apa, itu bukan berarti kamu tertinggal. Mungkin kamu cuma masih ada di proses mencarinya.
Jangan lupa follow instagram @sefruitmedia untuk konten menarik lainnya yaaa
