Baru kenal sebentar, tapi kamu sudah mulai membayangkan banyak hal. Ngebayangin dia bakal jadi pasangan yang perhatian. Ngebayangin hubungan kalian nanti bakal sehat. Ngebayangin dia bisa berubah jadi versi terbaik dirinya.
Padahal kenyataannya Kamu bahkan belum benar-benar mengenal dia. Dan tanpa sadar, banyak orang ternyata lebih jatuh cinta sama potential seseorang dibanding orangnya langsung.
Apa Itu Self-Love Bombing?
Belakangan ini istilah self-love bombing mulai ramai dibahas di wellness circles dan media sosial. Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu cepat membangun fantasi romantis terhadap orang lain, lalu mengisi sendiri semua kemungkinan baik yang sebenarnya belum tentu nyata.
Jadi yang bikin attached bukan cuma orangnya, tapi harapan dan versi ideal tentang dia di kepala kita sendiri. Dilansir dari Psychology Today (2024), banyak orang sering jatuh cinta pada potensi pasangan karena otak manusia cenderung mengisi kekosongan informasi dengan harapan dan proyeksi emosional.
Makanya kadang kita merasa sangat dekat dengan seseorang, padahal sebenarnya kita baru mengenal sebagian kecil dirinya.
Kenapa Kita Gampang Jatuh Cinta Sama Potential?
Karena potential terasa nyaman. Potential memberi harapan. Potential bikin kita merasa “dia sebenarnya bisa berubah kok.” “dia sebenarnya punya sisi baik.” “kalau nanti dia sembuh/matang/stabil, pasti hubungan ini bakal bagus.”
Padahal sering kali yang kita cintai bukan realita hubungan sekarang, melainkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Dikutip dari buku Attached karya Amir Levine dan Rachel Heller (2010), orang dengan anxious attachment cenderung lebih mudah terikat pada harapan emosional dan terus mencari validasi dalam hubungan, bahkan ketika hubungan tersebut belum memberikan rasa aman yang nyata.
Makanya banyak orang tetap bertahan karena mereka jatuh cinta pada kemungkinan hubungan ini nanti, bukan kondisi hubungan saat ini.
Kadang Kita Bukan Jatuh Cinta, Kita Cuma Kesepian
Ini bagian yang jarang dibahas. Kadang seseorang terlihat spesial bukan karena dia benar-benar cocok, tapi karena kita sedang membutuhkan rasa diperhatikan.
Dikit-dikit jadi baper. Baru dikasih perhatian kecil langsung kebayang masa depan. Baru chat intens beberapa hari rasanya sudah dekat banget.
Dilansir dari Verywell Mind (2023), kondisi seperti ini sering berkaitan dengan limerence atau keadaan emosional ketika seseorang terlalu terobsesi pada fantasi romantis dan validasi emosional dari orang lain. Dan karena semuanya masih berupa kemungkinan, otak jadi lebih mudah mengidealkan seseorang.
Red Flag Jadi Susah Kelihatan
Saat kita terlalu fokus pada potential seseorang, red flag sering mulai terlihat masih bisa dimaklumi.
Kita jadi berpikir “dia cuma lagi capek,” “nanti juga berubah,” “dia sebenarnya baik kok,” atau “aku yakin dia beda.”
Padahal hubungan yang sehat seharusnya dilihat dari konsistensi perilaku seseorang sekarang, bukan dari harapan tentang siapa dia nanti.
Dilansir dari Harvard Business Review (2023), terlalu fokus pada potential pasangan dapat membuat seseorang mengabaikan incompatibility dan masalah nyata dalam hubungan. Akhirnya hubungan jadi melelahkan karena yang dipertahankan adalah ekspektasi, bukan realita.
Self-Love Bombing Bisa Bikin Kamu Kehilangan Diri Sendiri
Karena saat terlalu fokus pada potential orang lain, kita sering mulai memaklumi hal-hal yang menyakitkan, menunggu perubahan yang nggak pasti, dan menggantungkan kebahagiaan pada versi masa depan seseorang.
Tanpa sadar, kita jadi lebih sibuk mencintai kemungkinan daripada melihat kenyataan. Dan itu capek. Karena semakin besar harapan yang dibangun sendiri, semakin besar juga rasa kecewa saat realitanya nggak sesuai.
Jatuh Cinta Sama Potential Itu Manusiawi, Tapi Tetap Harus Hati-Hati
Semua orang pasti pernah mengidealkan seseorang. Apalagi kalau orang itu memberi rasa nyaman, perhatian, atau harapan kecil yang bikin kita merasa spesial.
Tapi hubungan yang sehat bukan dibangun dari “siapa dia nanti.” Melainkan dari “siapa dia sekarang.”
Karena cinta yang sehat seharusnya nggak membuat kita terus menunggu seseorang berubah dulu supaya bisa diperlakukan dengan baik.
Jangan lupa follow instagram @sefruitmedia untuk konten lainnya yang relate sama kamu yaaa
