Banyak orang pengen mulai journaling, tapi baru buka buku kosong aja langsung bingung.
“Mau nulis apa ya?”
Akhirnya niat journaling cuma bertahan 2 hari, 3 halaman, lalu berhenti karena merasa nggak bisa nulis bagus. Padahal sebenarnya journaling nggak harus puitis, estetik, deep, atau penuh quotes. Journaling itu bukan lomba jadi karakter utama film indie. Kadang cukup jadi tempat buat isi kepala yang lagi penuh aja.
Masalahnya, kebanyakan panduan journaling terdengar terlalu serius. Harus self-reflection, harus mindful, harus healing, harus produktif. Akhirnya banyak orang jadi overthinking duluan sebelum mulai nulis.
Dikutip dari buku The New Diary karya Tristine Rainer (1978), journaling sebenarnya bukan tentang menulis dengan sempurna, tapi tentang membantu seseorang memahami pikiran dan emosinya secara lebih jujur dan personal. Artinya, nggak ada format “benar” dalam journaling.
Dan sebenarnya kamu nggak harus langsung nulis hal-hal yang dalam banget. Banyak orang merasa journaling harus langsung penuh refleksi hidup, padahal kamu bisa mulai dari hal random seperti:
“Hari ini capek.”
“Aku kesel sama dosen.”
“Kenapa cuaca panas banget.”
“Aku lapar tapi males makan.”
Sesimpel itu pun tetap journaling.
Dilansir dari penelitian Expressive Writing oleh James W. Pennebaker dalam jurnal Advances in Psychiatric Treatment (1999), menulis bebas tentang pikiran sehari-hari dapat membantu mengurangi stres dan membantu otak memproses emosi dengan lebih sehat. Jadi bukan isi tulisannya yang paling penting, tapi kebiasaan mengeluarkan isi kepala itu sendiri.
Kalau kamu masih sering blank, jangan mulai dengan pertanyaan “mau nulis apa?” Coba ganti jadi,
“Apa yang lagi aku pikirin sekarang?”
“Apa yang bikin aku capek hari ini?”
“Hal kecil apa yang ganggu pikiranku?”
“Apa yang sebenarnya pengen aku bilang tapi nggak bisa?”
Karena sering kali kita bukan nggak punya isi kepala, kita cuma terlalu bingung mulai dari mana. Dan satu lagi yang penting ialah journaling nggak harus rapi. Tulisan jelek? Gapapa. Lompat-lompat? Gapapa. Isinya marah-marah? Gapapa. Journaling bukan tugas sekolah.
Dikutip dari buku Writing Down the Bones karya Natalie Goldberg (1986), menulis bebas tanpa terlalu menghakimi diri sendiri dapat membantu seseorang lebih terhubung dengan pikiran asli mereka. Makanya banyak metode journaling justru menyarankan untuk “tulis aja dulu.” Karena kalau terlalu sibuk bikin tulisan sempurna, akhirnya malah nggak jadi nulis sama sekali.
Kalau masih bingung banget, coba mulai dari format simpel kayak,
“Hari ini aku merasa…”
“Hal yang paling bikin kepikiran…”
“Hal kecil yang bikin aku senang hari ini…”
“Yang pengen aku lakukan sekarang…”
Nggak perlu panjang. Nggak perlu aesthetic. Nggak perlu bagus. Yang penting mulai.
Dilansir dari artikel ilmiah di Cambridge University Press berjudul Writing About Emotional Experiences as a Therapeutic Process oleh James W. Pennebaker dan Janel D. Seagal (1999), expressive writing membantu seseorang memahami emosi dan meningkatkan regulasi stres secara bertahap.
Makanya journaling nggak harus langsung mengubah hidup kamu. Kadang cukup membantu kepala terasa sedikit lebih lega aja dulu. Karena mungkin kamu nggak harus jadi “anak journaling” dulu buat mulai nulis. Semua orang juga mulai dari halaman kosong.
Kalau kamu tertarik konten lainnya yang seperti ini, jangan lupa follow @sefruitmedia yaa
