Pernah nggak sih kamu merasa punya banyak versi diri sendiri?
Kalau lagi sama sahabat dekat, kamu bisa super berisik dan banyak bercanda. Tapi begitu ketemu orang baru, tiba-tiba jadi pendiam. Di rumah mungkin kamu kalem, sementara di kampus atau kantor kamu jauh lebih aktif dan percaya diri.
Kadang sampai muncul pertanyaan “Yang asli sebenarnya yang mana, ya?”
Kalau kamu pernah merasakan hal ini, tenang. Itu bukan berarti kamu palsu, bermuka dua, atau nggak punya jati diri. Dalam psikologi, fenomena ini justru cukup normal.
Menurut buku The Presentation of Self in Everyday Life karya Erving Goffman (1956), manusia secara alami menyesuaikan cara mereka menampilkan diri berdasarkan situasi sosial yang sedang dihadapi. Goffman menggambarkan interaksi sosial seperti sebuah panggung, di mana setiap orang menyesuaikan perilakunya sesuai konteks dan audiens yang berbeda.
Makanya kamu bisa jadi versi yang berbeda saat bersama teman, keluarga, pasangan, atau rekan kerja. Bukan karena sedang berpura-pura, tapi karena setiap lingkungan memunculkan sisi diri yang berbeda.
Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan istilah code-switching.
Awalnya istilah code-switching banyak digunakan dalam ilmu bahasa untuk menjelaskan perubahan cara berbicara atau penggunaan bahasa tertentu sesuai lawan bicara. Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang juga mengalami bentuk “code-switching emosional”, yaitu menyesuaikan ekspresi, energi, atau perilaku agar lebih sesuai dengan lingkungan sosialnya.
Misalnya kalau lagi sama teman dekat kamu lebih ekspresif, atau sama dosen atau atasan kamu lebih formal, atau mungkin sama keluarga kamu lebih santai, dan sama orang yang membuatmu tidak nyaman kamu jadi lebih hati-hati.
Dan sering kali semua itu terjadi secara otomatis.
Dikutip dari buku The Social Animal karya Elliot Aronson (2018), perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan keberadaan orang lain. Cara kita berpikir, berbicara, hingga bertindak sering kali berubah tergantung situasi dan kelompok tempat kita berada.
Yang menarik, perubahan ini belum tentu buruk. Justru kemampuan beradaptasi merupakan salah satu keterampilan sosial yang penting.
Masalahnya muncul ketika kamu merasa harus menjadi orang lain demi diterima. Misalnya saat kamu menyembunyikan pendapat terus-menerus, selalu berpura-pura setuju, takut menunjukkan kepribadian asli, atau merasa lelah setelah berinteraksi karena terus “berakting”.
Kalau sampai seperti itu, mungkin yang terjadi bukan lagi adaptasi, melainkan people-pleasing.
Dilansir dari penelitian Self-Monitoring: A Review and Research Agenda oleh Mark Snyder (1987), sebagian orang memiliki tingkat self-monitoring yang tinggi, yaitu kecenderungan untuk menyesuaikan perilaku mereka berdasarkan situasi sosial dan ekspektasi lingkungan. Orang dengan self-monitoring tinggi biasanya lebih mudah beradaptasi, tetapi juga lebih rentan merasa kehilangan keaslian dirinya jika dilakukan secara berlebihan.
Makanya banyak orang merasa bingung dengan identitasnya sendiri karena mereka sudah terlalu lama fokus menyesuaikan diri dengan orang lain. Padahal sebenarnya kita semua punya banyak sisi.
Kamu bisa menjadi anak yang penyayang, teman yang kocak, mahasiswa yang serius, pasangan yang lembut, dan semuanya tetap bagian dari dirimu.
Menurut buku Personality: Theory and Research karya Daniel Cervone dan Lawrence A. Pervin (2018), kepribadian manusia bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh interaksi antara karakter individu dan lingkungan sosial. Artinya, seseorang tetap bisa memiliki identitas yang konsisten meskipun perilakunya berubah sesuai situasi.
Jadi kalau kamu merasa menjadi orang yang berbeda tergantung sedang bersama siapa, itu tidak selalu berarti ada yang salah. Mungkin kamu hanya sedang menunjukkan sisi diri yang berbeda kepada orang yang berbeda.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan itu membuatmu tetap nyaman menjadi diri sendiri? Atau justru membuatmu merasa harus terus memakai topeng? Karena pada akhirnya, beradaptasi itu sehat. Tapi kehilangan diri sendiri demi diterima orang lain adalah cerita yang berbeda.
Follow Instagram @sefruitmedia untuk konten-konten menarik lainnya, dan share artikel ini ke teman yang pernah bilang, “Kok gue beda ya kalau lagi sama circle lain?”
