Banyak orang merasa lebih berani berbicara langsung daripada mengirim pesan. Aneh memang. Di dunia digital, kita punya waktu untuk berpikir, mengedit kata-kata, bahkan menghapus dan menulis ulang sebelum mengirim. Tapi justru karena itulah, banyak orang jadi semakin overthinking.
Pernah mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi? Menulis ulang dengan kalimat berbeda? Membaca ulang sampai lima kali sebelum akhirnya menekan tombol send? Atau malah memilih tidak jadi mengirim sama sekali?
Kalau iya, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini ternyata cukup umum terjadi. Banyak orang merasa khawatir salah ngomong di chat karena pesan teks menghilangkan banyak hal yang biasanya membantu komunikasi berjalan lancar, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh. Akibatnya, otak kita berusaha menebak-nebak bagaimana pesan itu akan diterima oleh orang lain.
Ketika berkomunikasi secara langsung, kita bisa segera melihat reaksi lawan bicara. Kalau mereka terlihat bingung, kita bisa langsung menjelaskan. Kalau mereka tertawa, kita tahu mereka mengerti maksud kita. Tapi dalam chat, semua informasi itu hilang.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa pengirim pesan sering kali melebih-lebihkan kemampuan orang lain dalam memahami emosi dan maksud yang mereka sampaikan melalui teks. Akibatnya, komunikasi digital lebih rentan terhadap kesalahpahaman dibanding yang kita kira.
Karena itulah, otak mulai bekerja ekstra. “Nanti dia salah paham nggak ya?”, “Kalimat ini terdengar jutek nggak?”, atau “Apa aku terlalu berlebihan?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul karena manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima secara sosial. Kita ingin dipahami, dihargai, dan tidak ditolak oleh orang lain. Ketika ada kemungkinan kecil saja untuk disalahartikan, otak sering kali menganggapnya sebagai ancaman sosial.
Menurut teori Social Pain, otak memproses ancaman terhadap hubungan sosial dengan cara yang mirip seperti memproses rasa sakit fisik. Tidak heran kalau sekadar mengirim pesan sederhana kadang bisa terasa menegangkan.
Rasa khawatir ini biasanya semakin kuat pada orang yang sering memikirkan pendapat orang lain, memiliki kecenderungan perfeksionis, atau pernah mengalami pengalaman negatif dalam komunikasi sebelumnya. Misalnya, pernah salah mengirim pesan, pernah disalahpahami, atau pernah mendapatkan respons yang membuat mereka merasa malu.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat membuat otak belajar untuk lebih waspada setiap kali harus mengirim pesan baru.
Selain itu, budaya komunikasi digital saat ini juga ikut berperan. Fitur seperti tanda pesan dibaca, status online, hingga waktu balasan yang bisa terlihat membuat banyak orang semakin mudah menganalisis interaksi secara berlebihan.
Pesan belum dibalas selama satu jam. Otak langsung membuat berbagai skenario “Dia marah ya?”, “Aku salah ngomong?”, “Dia nggak suka sama aku?”
Padahal kenyataannya bisa sesederhana mereka sedang sibuk atau belum sempat membuka pesan.
Fenomena ini dikenal sebagai negative interpretation bias, yaitu kecenderungan untuk mengartikan situasi yang ambigu sebagai sesuatu yang negatif. Ketika informasi tidak lengkap, otak sering kali mengisi kekosongan tersebut dengan asumsi yang paling mengkhawatirkan.
Kabar baiknya, merasa khawatir sebelum mengirim pesan bukan berarti ada yang salah dengan dirimu. Itu hanya menunjukkan bahwa kamu peduli terhadap hubungan dan bagaimana orang lain menerima apa yang kamu sampaikan.
Namun jika terlalu sering terjadi, penting untuk mengingat bahwa tidak semua percakapan harus sempurna. Tidak semua pesan harus dirancang seperti presentasi penting. Sebagian besar orang juga tidak menganalisis pesanmu sedetail yang kamu bayangkan.
Kadang pesan yang paling efektif justru pesan yang sederhana, jujur, dan dikirim tanpa terlalu banyak revisi.
Karena pada akhirnya, komunikasi bukan tentang menemukan susunan kata yang sempurna. Komunikasi adalah tentang menyampaikan apa yang ingin kita katakan dan memberi ruang bagi orang lain untuk memahaminya.
Kalau kamu pernah menghapus dan mengetik ulang pesan berkali-kali sebelum mengirimnya, kemungkinan besar kamu tidak sendirian. Bagikan artikel ini ke teman yang sering overthink sebelum chat, dan jangan lupa follow Instagram @sefruitmedia untuk konten psikologi dan self-growth lainnya.
