Banyak orang berpikir bahwa hambatan terbesar dalam hidup datang dari luar seperti lingkungan, keadaan, kurangnya kesempatan, atau orang lain. Padahal terkadang, penghalang terbesar justru datang dari diri sendiri.
Bukan karena kamu sengaja ingin gagal. Bukan karena kamu tidak ingin berkembang. Justru sebaliknya, kamu mungkin sangat menginginkan perubahan. Namun tanpa sadar, ada pola-pola tertentu yang membuatmu terus kembali ke titik yang sama.
Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai self-sabotage, yaitu perilaku yang secara tidak sadar menghambat tujuan, kebahagiaan, atau perkembangan diri sendiri.
Yang membuat self-sabotage sulit dikenali adalah karena sering kali perilakunya terlihat normal. Bahkan beberapa di antaranya sering disalahartikan sebagai sifat pribadi.
Kalau akhir-akhir ini kamu merasa hidup seperti jalan di tempat, mungkin lima tanda berikut patut diperhatikan.
1. Kamu Terus Menunda Hal yang Sebenarnya Penting
Pernah punya target yang sangat ingin dicapai, tapi justru sulit memulainya?
Tugas dibiarkan menumpuk. CV belum dikirim. Ide bisnis hanya ada di kepala. Proyek pribadi terus ditunda dengan alasan “nanti kalau sudah siap.”
Sekilas terlihat seperti malas. Padahal dalam banyak kasus, penundaan justru berkaitan dengan ketakutan. Ketakutan gagal, ketakutan tidak cukup baik, atau bahkan ketakutan berhasil dan harus menghadapi tanggung jawab baru.
Psikolog Joseph Ferrari, dalam bukunya Still Procrastinating: The No Regrets Guide to Getting It Done (2010), menjelaskan bahwa prokrastinasi sering kali bukan masalah manajemen waktu, melainkan cara seseorang menghindari emosi yang tidak nyaman.
Jadi, kadang yang kamu hindari bukan pekerjaannya, melainkan perasaan yang muncul saat mengerjakannya.
2. Kamu Selalu Meremehkan Kemampuan Diri Sendiri
Setiap mendapat kesempatan baru, respons pertamamu adalah “Aku kayaknya nggak bisa.”, “Aku belum cukup pintar.”, atau”Ada orang lain yang lebih cocok.”
Padahal orang lain melihat potensimu dengan jelas. Jika ini sering terjadi, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam pola self-doubt yang berlebihan.
Psikolog Albert Bandura dalam bukunya Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997) menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri sangat memengaruhi tindakan yang akan diambil.
Ketika seseorang terus meragukan dirinya, mereka cenderung menghindari tantangan, menyerah lebih cepat, dan kehilangan kesempatan berkembang. Ironisnya, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka sudah kalah sebelum mencoba.
3. Kamu Menunggu Waktu yang “Sempurna”
Kamu ingin mulai olahraga,tapi menunggu hari Senin. Ingin membuat konten, tapi menunggu alat yang lebih bagus. Ingin melamar pekerjaan, tapi menunggu merasa lebih percaya diri. Masalahnya, waktu yang sempurna hampir tidak pernah datang.
Perfeksionisme sering terlihat seperti ambisi tinggi, padahal dalam beberapa kasus justru menjadi bentuk self-sabotage.
Dalam buku The Gifts of Imperfection (2010), peneliti Brené Brown menjelaskan bahwa perfeksionisme bukan tentang mengejar yang terbaik, melainkan usaha untuk menghindari kritik, rasa malu, dan penilaian negatif dari orang lain.
Akibatnya, seseorang terus menunda tindakan karena takut hasilnya tidak sempurna.
4. Kamu Sulit Menerima Hal-Hal Baik yang Datang
Saat dipuji, kamu langsung berkata “Ah biasa aja.” Saat berhasil mencapai sesuatu “Itu cuma kebetulan.” Saat mendapatkan kesempatan bagus “Mereka salah pilih orang.”
Fenomena ini sering dikaitkan dengan impostor syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan mengakui keberhasilan yang sebenarnya memang pantas mereka dapatkan.
Penelitian yang dilakukan Pauline Clance dan Suzanne Imes dalam artikel The Impostor Phenomenon in High Achieving Women (1978) menunjukkan bahwa banyak individu berprestasi justru merasa pencapaiannya terjadi karena keberuntungan, bukan kemampuan.
Ketika seseorang terus menolak keberhasilannya sendiri, mereka bisa tanpa sadar menghambat perkembangan dan kepercayaan dirinya.
5. Kamu Terus Mengulang Pola yang Sama Meski Sudah Tahu Akhirnya
Ini mungkin bentuk self-sabotage yang paling sulit disadari. Misalnya, terus memilih hubungan yang membuatmu tidak bahagia, terus menghindari percakapan penting, terus meninggalkan target saat progres mulai terlihat, atau terus kembali pada kebiasaan yang sebenarnya ingin kamu tinggalkan.
Kalau suatu pola terus berulang, biasanya ada kebutuhan emosional yang belum terselesaikan di baliknya.
Psikolog Jeffrey Young dalam buku Reinventing Your Life (1993) menjelaskan bahwa manusia sering kali mengulang pola yang familiar, bahkan ketika pola tersebut menyakitkan. Otak cenderung memilih sesuatu yang dikenal dibanding sesuatu yang tidak pasti.
Karena itulah, perubahan sering terasa tidak nyaman meskipun sebenarnya lebih sehat.
Self-Sabotage Tidak Selalu Terlihat Seperti Menghancurkan Diri
Kebanyakan orang membayangkan self-sabotage sebagai tindakan besar yang merusak hidup. Padahal kenyataannya lebih halus. Bentuknya bisa berupa menunda, meragukan diri sendiri, menunggu terlalu lama, menolak kesempatan, atau terus mengulangi pola yang sama.
Dan karena terlihat “normal”, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi penghalang bagi dirinya sendiri. Kabar baiknya, langkah pertama untuk menghentikan self-sabotage bukanlah mengubah semuanya sekaligus.
Melainkan menyadari kapan pola itu muncul. Karena sulit mengubah sesuatu yang tidak kita sadari keberadaannya.
Kalau kamu membaca artikel ini dan merasa beberapa poinnya relate dengan dirimu, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai memperhatikan pola-pola yang selama ini berjalan otomatis. Bagikan artikel ini ke teman yang sering merasa hidupnya “jalan di tempat”, dan jangan lupa follow @sefruitmedia untuk konten psikologi, self-growth, dan insight menarik lainnya.
