Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Israel dan militer Amerika Serikat (AS), serta pusat-pusat pelabuhan akan dianggap sebagai “target yang sah” jika Washington melancarkan serangan militer terhadap Teheran.
Dalam kerangka pertahanan yang sah, kami tidak membatasi diri hanya untuk menanggapi setelah suatu tindakan terjadi. Jika terjadi serangan militer AS, baik wilayah pendudukan (Israel) maupun pusat militer dan perkapalan AS akan menjadi sasaran yang sah bagi kami,”
kata Ghalibaf dalam sesi parlemen, dikutip dari Middle East Monitor, Senin, 12 Januari 2026.
Dia mengatakan, bahwa Iran saat ini terlibat dalam konfrontasi dengan Israel dan AS di empat front, yakni ekonomi, kognitif, militer, dan perang terorisme. Dia juga menambahkan, bahwa front-front ini berlangsung secara bersamaan.
Musuh berencana merekrut teroris lokal selama perang 12 hari, tetapi mereka gagal (pada Juni 2025). Sekarang, mereka telah merekrut teroris lokal. Kita sedang memerangi teroris,”
ujarnya, merujuk pada gelombang protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung di negara tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026, bahwa warga Iran sedang menantikan kebebasan, seiring dengan terus menyebarnya protes yang dimulai pada 28 Desember di seluruh negeri. Ia juga menambahkan, bahwa Washington siap menawarkan dukungan.
Menurut Pemerintah AS, Iran ‘berhalusinasi’ karena menilai bahwa Israel dan AS memicu kerusuhan kekerasan di negara kami,”
kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Hanya ada satu masalah: mantan Direktur CIA Presiden Trump sendiri telah secara terbuka dan tanpa malu-malu menyoroti apa yang sebenarnya dilakukan Mossad dan para pendukungnya di Amerika. Satu-satunya aspek ‘khayalan’ dari situasi saat ini adalah keyakinan bahwa pembakaran tidak akan pernah menimpa pelakunya,”
tambahnya.
Sementara itu, Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyerukan tindakan tegas terhadap apa yang disebutnya sebagai para perusuh dalam demonstrasi tersebut.
Lembaga peradilan harus mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang menciptakan ketidakamanan, membunuh orang, dan merusak properti publik dalam kerusuhan yang telah melanda sejumlah kota di Iran dalam beberapa hari terakhir,”
katanya kepada stasiun televisi pemerintah IRIB.
Penting untuk membedakan antara protes dan kerusuhan. Kegiatan kriminal, seperti pembunuhan dan serangan pembakaran, sangat mirip dengan metode yang digunakan oleh kelompok teroris seperti Daesh (ISIS),”
ungkap Larijani.
Ia memperingatkan, bahwa tindakan kekerasan tersebut hanya akan merugikan masyarakat, mengganggu keamanan, dan mengakibatkan stagnasi ekonomi.
Sebagai informasi, Iran telah diguncang oleh protes sejak 28 Desember di Grand Bazaar Teheran, karena depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota.
Tidak ada perkiraan resmi mengenai korban jiwa, tetapi kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 538 orang, dengan lebih dari 2.600 orang ditahan.
Namun, seorang dokter di Teheran, yang berbicara kepada majalah Time dengan syarat anonim, mengatakan bahwa enam rumah sakit di ibu kota mencatat setidaknya 217 kematian demonstran, sebagian besar akibat peluru tajam.
Di lain sisi, pemerintah Iran belum merilis statistik terperinci tentang korban jiwa di antara para demonstran. Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara melaporkan pada hari Minggu bahwa 109 personel keamanan telah tewas dalam protes tersebut.
