Perjuangan berbulan-bulan membuktikan kepalsuan ijazah Sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) mulai mengalami perpecahan.
Kelompok perlawanan yang awalnya satu perjuangan, kini terbelah menjadi dua kubu. Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo cs kini tak lagi sejalan dengan kubu Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Eggi Sudjana.
Awalnya, mereka sama-sama lantang menyuarakan bahwa ijazah yang dipakai Jokowi melanggeng mulai dari Walikota Solo hingga menjadi orang nomor 1 di Indonesia selama dua periode, diduga kuat palsu.
Roy Suryo dan Eggi dengan lantang menyuarakan ke publik, bahwa banyak keanehan pada ijazah ayah kandung Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka tersebut.
Namun, perjuangan dan suara lantang Eggi Sudjana bersama Damai Hari Lubis, mulai melunak dan terkesan meredup. Bahkan, belum lama ini mereka dikabarkan melakukan pertemuan tertutup dengan Jokowi di kediamannya di Solo, Kamis, 8 Januari 2026.
Meski saat pertemuan itu, Eggi dan Damai masih menyandang status sebagai tersangka kluster dugaan fitnah, pencemaran nama baik, dan penghasutan. Pertemuan tersebut juga diduga tanpa sepengetahuan Roy Suryo dan yang lain.
Mantan Menpora cs dan publik kemudian dibuat terperangah usai pertemuan Eggi dan Damai bersama Jokowi. Kabar terbaru dari Polda Metro menyebutkan, telah mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) untuk Eggi dan Damai Hari Lubis.
Dengan begitu, otomatis status terhadap mereka berdua gugur di mata hukum. Sementara Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar dan Tifauziah Tyassuma sebagai tersangka pencemaran nama baik Jokowi, tetap berlanjut ke meja Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk dipelajari.
Drama pecah kongsi antara kedua kubu tersebut pun mencuat ke permukaan. Publik dibuat heboh dan gaduh. Perjuangan untuk membuktikan bahwa ijazah Jokowi yang diduga palsu, terancam masuk angin atau bahkan hilang begitu saja dan berakhir ancaman pidana terhadap kubu Roy Suryo cs.
Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, menilai perjuangan Roy Suryo dan Eggi cs awalnya sudah memiliki tujuan yang selaras, yakni sama-sama ingin membuktikan ke publik terkait dugaan palsunya ijazah Jokowi.
Mereka, sambungnya, sudah menyatakan kalau ijazah mantan Gubernur DKI Jakarta itu diduga kuat palsu sebab tidak ada keterbukaan informasi dokumen itu di Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat pemilu 2014 dan 2019.
Yang satu merasa bahwa dia ingin terus melanjutkan, karena menganggap dirinya benar dan tidak mau berkompromi dengan pak Jokowi. Sementara kalau yang kubu satunya lagi merasa bahwa kepentingannya dia itu sudah berbeda,”
kata Efriza saat dihubungi owrite.id.
Menurutnya, hal tersebut bukan masalah soal pembuktian mencari kebenaran saja. Waktu, dan materi sudah mereka korbankan. Demikian juga dengan opini publik yang sudah terbentuk. Bedanya, di pertengahan jalan kubu Eggi dan Damai Lubis memilih untuk berkompromi dengan mantan walikota Solo itu.
Isu Lobi Politik dan Mega Proyek
Menurut Efriza pertemuan mereka lebih dari sekedar ngobrol-ngobrol santai atau undangan. Nuansa adanya intrik politik juga masih kental mewarnai, baik dari pertemuan itu maupun dari segi kasusnya.
Beberapa pihak menuding, output pertemuan Eggi dan Damai Lubis ditawarkan uang triliunan bahkan dijanjikan proyek besar hingga bepergian ke luar negeri.
Melihat sebuah upaya mencari kebenaran dari ijazah palsu, tapi dengan dasar yang akhirnya penuh dengan intrik politik, penuh dengan nuansa politisasi, bahkan penuh dengan upaya-upaya untuk terjadinya negosiasi, kompromi itu yang terjadi,”
ujar Efriza.
Sejak awal kasus ini bergulir, Efriza meyakini bahwa kasus ini tidak murni sekadar ajang pembuktian. Namun ada kompromi dari kubu Eggi dengan Jokowi, dan kasus yang sudah terlanjur membuat kentalnya unsur politik di dalamnya.
Di lapangan itu memang kental sekali aroma politiknya. Ini kental dan kita bisa melihat bagaimana akhirnya bisa terjadi hubungan, kompromi, dan terjadi hubungan yang saling bertemu dan bagaimana proses ini berlarut-larut. Dan saya rasa ini sama-sama paling tepatnya, bahasanya ini tidak dalam kapasitas ingin cepat-cepat menyelesaikan persoalan ini,”
ungkap Efriza.
Dari awal, kasus yang menjerat Roy dan Eggi yang paling berat diuji menurut Efriza yakni unsur politik, disusul adanya tekanan dari publik. Belum lagi lawannya adalah presiden yang sudah melanggeng dua periode, kemudian menitipkan kekuasaannya melaui anaknya.
Hal ini jelas membuktikan masih adanya pengaruh kuat dari Jokowi. Alhasil, Eggi dan Damai Lubis tidak memiliki ‘nafas panjang’ lagi untuk bisa sejalan dengan Roy Suryo cs.
Terlanjur Harus Buktikan Ijazah Palsu Jokowi
Beda halnya dengan kubu Roy Suryo, mereka masih memiliki nafas panjang dan harus diselingi dengan pembuktian kalau ijazah Jokowi yang diyakininya benar-benar palsu.
Kalau sampai akhir Roy Suryo tidak berhasil membuktikannya, tentu ini menjadi catatan sejarah yang buruk baginya.
Ya, akhirnya akan terbentuk opini publik, di antara kedua kubu itu opini publik akan terbentuk. Bahwa, yang mana yang benar serius? Mana yang cuma sekadar meramaikan? Mana yang benar-benar berjuang untuk pembuktian tanpa kompromi?”
tegasnya.
Agenda Melanggeng di Pemilu 2029
Dengan modal sudah memegang kekuasaan pemerintahan selama 10 tahun, tentunya masih menyisakan pengaruh besar bagi seorang Jokowi yang namanya diseret-seret oleh mantan Menpora itu.
Dua periode di pemerintahan, dia mampu merangkul banyak partai, membagi-bagi kekuasaannya, termasuk perlindungannya dan itu masih terasa sampai sekarang.
Belum lagi dibalik layar, Jokowi bisa melanggengkan anaknya, Gibran, terpilih sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Prabowo Subianto.
Dia masih punya pengaruh di kepolisian maupun di kejaksaan ataupun di tempat yang lain. Karena 10 tahun memerintah walaupun pak Jokowi bukan ketua umum partai, tapi kita bisa melihat bagaimana pak Jokowi merangkul semua orang,”
tuturnya.
Bahkan kalau kasus ini tidak cepat-cepat dibongkar ke publik, Efriza mencurigai hal ini bisa menjadi agenda setting untuk Jokowi kembali melanggeng di Pemilu 2029. Sebab, nama Jokowi masih santer di telinga publik. Nilai jualnya bahkan masih tinggi, sekalipun pernah didepak dari partai PDI Perjuangan.
Kalau ini terus menjadi sesuatu yang diproses dan berlarut-larut, ini akan menjadi nilai tersendiri bagi majunya Gibran maupun keikutsertaan Jokowi untuk mengusung ataupun “cawe-cawe” dengan yang lain,”
bilang Efriza.
Walaupun sudah tidak ada di pemerintahan, dan ini tentu menjadi nilai yang diperhitungkan juga oleh orang-orang akan membawa Jokowi dengan keluarganya, memajukan mereka itu akan disukai oleh publik atau tidak. Dan itu menjadi nilai tersendiri bagi Pak Jokowi,”
tambahnya.
Tertutup Isu MBG
Sebetulnya, kata Efriza pembuktian keaslian ijazah Jokowi tidak benar-benar dirasakan dampaknya di mata publik. Pasalnya, isu kasus tersebut sudah terlanjur tertutup denga isu seputar Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Terlalu noise, terlalu berisik dengan kondisi yang pribadi sebenarnya. Tapi berisiknya itu luar biasa, sampai publik melihat atau terkesan bahwa kasus ijazah palsu ini lebih bernilai jual ketimbang MBG,”
terangnya.
Demikian juga bagi kedua belah pihak yang bertikai, sambung Efriza, memiliki ego yang tinggi dan tidak mau duduk bersanding menyelesaikan masalah mereka, sehingga membuat publik jenuh mendengarnya.
Lagi-lagi hanya dari pihak aparat penegak hukum yang diharapkan untuk membuat terang kasus ini.


