Pemerintah menggelontorkan sejumlah stimulus pada kuartal I-2026. Stimulus ini berupa diskon transportasi dan bantuan pangan, guna mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026.
Diskon transportasi ini diberikan untuk kereta api, kapal laut, dan pesawat pada periode libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026, dengan besaran anggaran Rp911,16 miliar.
Sedangkan bantuan pangan diberikan selama dua bulan yakni pada Februari dan Maret, berupa beras 10 kilogram (kg) dan 2 liter minyak goreng per bulan untuk 35,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan secara momentum, pemerintah cukup sigap dalam merancang dan menilai pemberian stimulus pada kuartal I-2026. Namun, efektivitas stimulus perlu dilihat secara lebih proporsional.
Kombinasi antara stimulus fiskal dan peningkatan konsumsi musiman diharapkan mampu mengangkat kinerja ekonomi pada awal tahun. Namun, efektivitas stimulus tersebut perlu dilihat secara lebih proporsional,”
ujar Yusuf saat dihubungi owrite Rabu, 11 Februari 2026.
Yusuf mengatakan, jika dibandingkan dengan kuartal I-2025, nilai stimulus yang direncanakan pada kuartal I-2026 relatif lebih kecil. Padahal, pada 2025, pemerintah juga memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran sebagai pendorong pertumbuhan.
Artinya, meskipun timing kebijakannya tepat, daya dorong stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan tidak akan sebesar tahun lalu karena skala intervensinya lebih terbatas,”
jelasnya.
Yusuf memproyeksikan, dengan adanya stimulus yang diberikan pemerintah pada momen Hari Besar Keagamaan Ramadan dan Idul Fitri, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diproyeksi tumbuh 5 persen.
Kami prediksikan di sekitar 5,0 persen hingga 5,1 persen,”
jelasnya.
Yusuf menjelaskan, kinerja stimulus sangat ditentukan oleh tiga hal utama. Pertama besaran anggaran, kedua sasaran penerima, dan ketiga jenis stimulus yang diberikan.
Ia menuturkan, jika tujuan pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, maka stimulus yang langsung menyentuh daya beli dan konsumsi masyarakat menjadi kunci.
Program seperti bantuan sosial, subsidi pangan, maupun insentif yang menurunkan beban pengeluaran rumah tangga akan lebih cepat memicu perputaran ekonomi,”
jelasnya.
Yusuf mengatakan, salah satu contoh stimulus yang cukup efektif pada tahun lalu berupa diskon tarif listrik. Kebijakan ini terbukti mampu menambah ruang belanja masyarakat sehingga konsumsi meningkat.
Maka dari itu, dia mengatakan bahwa ke depan instrumen serupa masih relevan untuk dipertimbangkan, terutama guna menjaga daya beli rumah tangga.
Di samping itu, cakupan stimulus juga perlu diperluas. Dalam hal ini, kelompok kelas menengah tidak bisa diabaikan sebab, mereka merupakan kontributor besar terhadap konsumsi domestik.
Jika kelas menengah mengalami tekanan, maka dorongan pertumbuhan ekonomi akan terbatas meskipun bantuan untuk kelompok bawah sudah berjalan,”
ujarnya.
Kemudian dari sisi pengawasan, Yusuf mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki pengalaman, karena skema stimulus yang diberikan relatif mirip dengan tahun sebelumnya.
Namun dia menekankan, pengawasan distribusi barang selama Ramadan dan Idul Fitri menjadi hal penting. Sebab, kelancaran akan menentukan daya beli masyarakat.
Kelancaran pasokan dan stabilitas harga pangan menjadi krusial, karena lonjakan harga secara langsung menggerus daya beli masyarakat dan berpotensi menahan laju konsumsi pada kuartal I-2026,”
imbuhnya.

