Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 16 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • Piala Dunia 2026
  • MBG
  • Purbaya
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part I) Laporan Komisi Pencari Fakta: Tragedi Agustus 2025 dalam Sekap Republik
Nasional

(Part I) Laporan Komisi Pencari Fakta: Tragedi Agustus 2025 dalam Sekap Republik

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Februari 23, 2026 2:10 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
5 bulan lalu
Share
Suasana aksi 28 Agustus 2025, di kawasan Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU)
Suasana aksi 28 Agustus 2025, di kawasan Senayan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU)
SHARE

Tewasnya Affan Kurniawan akibat dilindas kendaraan taktis polisi pada 28 Agustus 2025 bukanlah akhir dari sebuah tragedi, melainkan lonceng pembuka bagi teror yang jauh lebih sistematis.

Kematian yang dibiarkan tanpa keadilan itu memicu tsunami kemarahan publik yang sah, namun direspons negara dengan unjuk kekuatan militeristik yang membidik jantung perlawanan: kaum muda.

Lima bulan berlalu, luka belum mengering. Lebih dari 700 anak muda masih terbelenggu status tahanan politik dalam proses hukum yang dipaksakan.

Lewat penelusuran ratusan berkas dan investigasi lintas kota, temuan Komisi Pencari Fakta (KPF)— berisikan berbagai unsur masyarakat sipil—membuktikan satu hal mengerikan: penangkapan kolosal ini bukanlah penegakan hukum, melainkan senjata kekuasaan (weaponization of law) guna membungkam nyali generasi masa depan.

KPF menginvestigasi secara independen dan menggali Open Source Intelligence (OSINT) terhadap 115 Berita Acara Pemeriksaan (BAP), lebih dari 63 informan dan saksi, serta penelusuran dokumen hukum, forensik digital, foto kejadian, dan analisis peristiwa dari berbagai sudut pandang di 18 kota, 8 provinsi, dan mencakup 4 negara, dan menjadikannya dalam sebuah temuan yang berjudul Laporan KPF: Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi.

Laporan ini menjawab empat mandat utama: mencari penyebab demonstrasi dan eskalasi kekerasan, memetakan aksi dan respons para pihak, mengidentifikasi pola serta faktor pemicu dan akselerator, serta menelaah akuntabilitas atas peristiwa yang terjadi.

Rangkaian demonstrasi dan kerusuhan Agustus 2025 menjadi salah satu krisis politik paling signifikan pada tahun pertama rezim Presiden Prabowo Subianto.

Demonstrasi Agustus 2025 tidak lahir dari satu isu tunggal, seperti wacana kenaikan tunjangan anggota parlemen, melainkan merupakan puncak dari akumulasi ketidakpuasan ekonomi, ketidakpercayaan terhadap institusi negara, dan elite politik yang tidak peka terhadap tekanan hidup rakyat.

Kondisi ini diperparah oleh sikap elite yang antikritik dan hilangnya mekanisme check and balance lantaran dominannya koalisi pemerintahan.

Gelombang protes pertama (25-27 Agustus) dan kedua (28 Agustus) awalnya berlangsung dengan relatif damai.

Gelombang kemarahan dan eskalasi kekerasan tajam baru terjadi pada gelombang ketiga (29-31 Agustus), yang diakselerasi langsung oleh insiden pembunuhan Affan Kurniawan (21 tahun) yang gugur dilindas kendaraan taktis lapis baja milik kepolisian.

Rangkaian demonstrasi dan represifitas aparat ini memakan harga yang sangat mahal, tercatat 13 orang gugur—termasuk korban yang terjebak paparan gas air mata aparat.

Upaya yang kami lakukan tidak menggantikan kewajiban negara untuk melakukan penelusuran fakta yang sebenarnya dan seterang-terangnya. Sejak awal kami mendesak presiden untuk membentuk Tim Pencari Fakta, tapi sampai hari ini tidak ada tim tersebut,”

kata Ketua Umum YLBHI Muhamad Isnur.

Laporan tersebut berisi 11 hal yakni konteks peristiwa berupa akumulasi kemarahan publik, tiga gelombang demonstrasi (demonstrasi damai dalam dua gelombang dan gelombang ketiga berupa tsunami kemarahan), dugaan keterlibatan TNI dalam penanganan aksi, eskalasi di ruang digital, pelanggaran hukum dan hak asasi manusia dalam penanganan demonstrasi, perburuan aktivis terbesar sejak reformasi, operasi sebelum operasi, penegakan hukum yang tajam ke bawah, operasi dalam operasi, dan operasi kambing hitam.

Demonstrasi dan kerusuhan Agustus 2025 memiliki sejumlah kemiripan dengan Peristiwa Malari yang terjadi pada 15 Januari 1974, khususnya soal keterhubungan antara konflik elite, dinamika antara lembaga negara, dan pembentukan narasi ‘dalang’ yang berujung pada perburuan aktivis pro-demokrasi melalui serangkaian kriminalisasi.

Paralel ini digunakan sebagai kerangka analitis untuk membaca pola kekuasaan dan respons negara terhadap mobilisasi publik, bukan untuk menyederhanakan konteks historis keduanya dan menyebut adanya kesengajaan pengulangan yang diatur sedemikian rupa.

Satu, terdapat kemiripan pada konteks elite yang bertikai di balik ledakan sosial. Dalam peristiwa Malari, kerusuhan dan respons negara tidak bisa dilepaskan dari dinamika perebutan pengaruh di lingkaran kekuasaan Orde Baru, di mana rivalitas elite mempengaruhi cara negara membaca, mengelola, dan kemudian “menyimpulkan” dinamika demonstrasi.

Dalam demonstrasi Agustus 2025, demonstrasi dan kerusuhan juga berlangsung dalam lanskap ketegangan elite dan instabilitas institusional, sehingga penjelasan berbasis “ajakan aktivis” semata tidak memadai untuk memahami rangkaian peristiwa secara utuh.

Dua, pertikaian tersebut melibatkan lembaga negara dan mempengaruhi strategi penanganan aksi massa. Dalam peristiwa Malari, pembacaan negara atas aksi mahasiswa dan kerusuhan diikuti oleh konsolidasi keamanan yang kuat, termasuk langkah-langkah yang berdampak pada ruang sipil dan kebebasan berekspresi.

Dalam peristiwa Agustus 2025, terdapat ketegangan antar lembaga penegak hukum serta implikasinya terhadap cara negara merespons protes yang mencampuradukkan penegakan hukum, operasi keamanan, dan perebutan legitimasi lembaga.

Ketiga, terdapat kemiripan pola kambing hitam aktivis pro-demokrasi untuk menutup kompleksitas aktor dan kepentingan di lapangan. Dalam peristiwa Malari, narasi penyebab dan penanggung jawab kerusuhan mengerucut pada pembingkaian tertentu yang memudahkan negara bertindak, seraya mengabaikan dinamika struktural dan manuver elite.

Dalam peristiwa Agustus 2025, aparat memusatkan penindakan pada aktivis pro-demokrasi, sambil menutup mata pada simpul produksi dan distribusi disinformasi serta jejaring pelaku kekerasan yang tidak ditelusuri secara imbang, sehingga menguatkan dugaan proses penegakan hukum bergerak mengikuti narasi yang “sudah terkendali”, bukan hasil penyelidikan objektif dan berdasar fakta.

Kami akan melaporkan ini (kepada pejabat, lembaga negara) perihal mencari fakta penyebab demonstrasi dan eskalasi kekerasan, mencari fakta pola pemicu dan katalis yang mengakselerasi demonstrasi dan kekerasan, mencari fakta aksi dan reaksi, mencari pihak yang bertanggung jawab sehingga jangan ada pengambinghitaman,”

ujar Isnur.
Tag:affan kurniawanaktivisbentrokchaosdemokrasidemonstrasipolisiSpill
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Kejagung Teken 3 Sprindik Baru: Febrie Diperiksa Sebagai Saksi, Belum Ada Tersangka
By Rahmat Baihaqi
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna
1
Gibran Dikenal karena Jokowi Itu Hal Biasa, Sudah Jadi Budaya Politik di Indonesia
By Rahmat Tunny
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri) menyapa warga dan pekerja saat meninjau perkebunan di Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.
2
Spanyol Gilas Prancis 2-0! Mbappe Frustrasi, La Roja Melaju ke Final Piala Dunia 2026
By Hadi Febriansyah
Pemain Timnas Spanyol selebrasi usai cetak gol ke gawang Prancis.
3
NCB Polri Sukses Pulangkan Buron Saham Tambang Kariatun Tan dari China
By Rahmat Baihaqi
NCB Interpol Polri bersama Kepolisian Republik Rakyat Tiongkok.
4
Trump Mau Ambil Alih Selat Hormuz, Iran Balas Ultimatum: Kami akan Paksa AS Tunduk!
By Natania Longdong
Ilustrasi foto Selat Hormuz memanas imbas militer AS dan Iran saling serang.
5

BERITA LAINNYA

Menteri HAM Natalius Pigai menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi XIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
Nasional

Merasa jadi Korban Bullying, Pigai ‘Ngamuk’ ke Aparat: Kenapa Polisi Tak Hentikan?

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai, melontarkan kritik kepada aparat…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
5 jam lalu
Kementerian Kebudayaan RI menyiapkan basis data terpadu masyarakat adat.
Nasional

Kementerian Kebudayaan Waspadai Masyarakat Adat ‘Jadi-jadian’, Basis Data Segera Disiapkan

Kementerian Kebudayaan RI menyiapkan basis data terpadu masyarakat adat sebagai bagian dari…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
5 jam lalu
Menteri HAM Natalius Pigai dalam rapat bersama Baleg DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, 15 Juli 2026.
Nasional

RUU Masyarakat Adat: Pigai Usul Bikin Komnas Baru sebagai Benteng Terakhir

Menteri HAM Natalius Pigai mengusulkan pembentukan Komisi Nasional Masyarakat Adat dalam Rancangan…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
5 jam lalu
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan di gedung DPR, 15 Juli 2026.
Nasional

Data Kemenbud: 2.506 Komunitas Masyarakat Adat di RI Masih Luntang-lantung tanpa Pengakuan

Kementerian Kebudayaan RI mengungkap dari total 3.292 komunitas masyarakat adat yang terdata,…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
6 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up