Indonesia akan melakukan impor beras 1.000 ton per tahun, dan jagung setiap tahunnya dari Amerika Serikat (AS). Komitmen ini sejalan dengan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan persetujuan impor ini hanya untuk beras khusus, yang realisasinya tergantung pada permintaan dalam negeri.
Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri,”
ujar Haryo dalam keterangan tertulis dikutip Senin, 23 Februari 2026.
Haryo menjelaskan, dalam lima tahun terakhir Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Menurutnya, komitmen impor beras 1.000 ton hanya 0,00003 persen dari total produksi beras nasional.
Komitmen impor beras AS hanya sebesar 1.000 ton tidak signifikan atau hanya sekitar 0,00003 persen dari total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 Juta Ton tahun 2025,”
jelasnya.
Sementara itu untuk impor jagung, Haryo menjelaskan bahwa tidak ditujukan untuk pasar umum. Akses impor diberikan untuk industri makanan dan minuman (mamin) dengan volume tertentu per tahunnya.
Ketentuan ini mengatur bahwa Indonesia memberikan akses impor Jagung asal AS untuk peruntukan bahan baku industri makanan & minuman (mamin) dengan volume tertentu per tahun,”
jelasnya.
Haryo mengatakan, kebutuhan impor jagung untuk industri makanan dan minuman pada tahun 2025 sebanyak 1,4 juta ton. Ia memastikan, importasi ini tidak akan mengganggu produksi jagung dalam negeri.
Kebutuhan importasi jagung untuk industri mamin pada tahun 2025 sekitar 1,4 juta ton. Produk jagung asal AS memiliki spesifikasi dan standar mutu sesuai yang dibutuhkan oleh industri mamin,”
terangnya.
Haryo menyebut, impor ini penting dilakukan Indonesia untuk memastikan kecukupan bahan baku utama pada industri mamin yang memiliki kontribusi 7,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ketentuan ini penting untuk Indonesia dalam rangka memastikan kecukupan bahan baku utama pada industri mamin yang memiliki kontribusi 7,13 persen terhadap PDB nasional, dan menyumbang 21 persen dari total ekspor industri non migas (atau senilai US$48 miliar), dan menyerap lapangan kerja hingga 6,7 juta pada tahun 2025,”
imbuhnya.

