Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menilai potensi penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz sebagai situasi serius yang perlu diantisipasi secara menyeluruh oleh pemerintah Indonesia.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Setiap gangguan di wilayah itu berpotensi menimbulkan efek domino terhadap stabilitas ekonomi global.
Penutupan Selat Hormuz bukan isu regional semata, tetapi berdampak luas pada rantai pasok energi dunia. Pemerintah harus bersiap menghadapi segala kemungkinan,”
ujar Amelia di Jakarta Kamis 4 Maret 2026.
Berdasarkan data dari Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap hari melewati jalur Selat Hormuz.
Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sangat vital bagi perdagangan energi internasional. Jika terjadi gangguan atau penutupan jalur pelayaran, harga minyak dunia hampir pasti akan mengalami lonjakan yang signifikan.
Fluktuasi harga minyak global tersebut pada akhirnya dapat memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.
Rentan Kenaikan Harga Minyak
Sebagai negara yang masih berstatus net importir minyak, Indonesia dinilai cukup rentan terhadap perubahan harga minyak mentah di pasar internasional.
Lonjakan harga minyak global dapat memicu berbagai konsekuensi ekonomi, mulai dari meningkatnya beban subsidi energi, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hingga pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan inflasi domestik.
Kondisi ini harus diantisipasi sejak dini agar tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap fiskal negara dan daya beli masyarakat,”
tegas Amelia.
Amelia mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipasi dengan memperkuat koordinasi antar kementerian dan lembaga.
Beberapa institusi yang dinilai perlu berperan aktif antara lain Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, serta Bank Indonesia.
Koordinasi tersebut penting untuk memitigasi dampak fiskal dan moneter jika harga minyak dunia melonjak akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Cadangan Energi dan Diversifikasi Pasokan
Selain penguatan koordinasi, Amelia juga menekankan pentingnya pengamanan cadangan energi nasional.
Hal ini termasuk memastikan ketersediaan cadangan operasional bahan bakar minyak (BBM) serta menjaga stabilitas distribusi energi di dalam negeri.
Di sisi lain, diversifikasi sumber pasokan energi dinilai menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap wilayah yang sedang mengalami konflik.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan negara pemasok lain maupun membuka jalur distribusi alternatif.
Amelia juga menilai pemerintah Indonesia perlu aktif melakukan diplomasi internasional guna menjaga stabilitas kawasan dan memastikan kebebasan navigasi tetap terjamin sesuai hukum internasional.
Upaya diplomasi ini dapat dilakukan melalui jalur bilateral maupun forum multilateral agar ketegangan geopolitik tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Situasi ini tidak boleh direspons secara reaktif. Pemerintah perlu menyiapkan skenario mitigasi yang matang agar ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. Kepentingan utama kita adalah memastikan masyarakat tidak menjadi pihak yang paling terdampak dari dinamika geopolitik global,”
tutup Legislator Fraksi Partai NasDem itu.


