Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan ekonomi pada 2026 di kisaran 4,5-5 persen, atau ke level terendah dalam 30 tahun terakhir. Penurunan target ini dikarenakan tekanan global yang kini semakin kompleks.
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan penyesuaian yang dilakukan oleh China akan memberikan dampak terhadap ekspor Indonesia. Sebab, China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
China terus melakukan rebalancing, dan berorientasi pada penguatan konsumsi domestik di tengah krisis geopolitik. Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, penurunan pertumbuhan China dimaknai sebagai penurunan permintaan produk dari Indonesia serta pelemahan peluang investasi,”
ujar Bhima saat dihubungi owrite, Kamis, 6 Maret 2026.
Bhima menuturkan, efek yang paling terasa untuk Indonesia adalah ekspor produk hilirisasi mulai dari nikel, bauksit, hingga barang tambang. Kinerja ekspor komoditas tersebut berpotensi mengalami kontraksi.
Batu bara sudah terasa dari tahun lalu, ada shifting permintaan dari China untuk batu bara berkalori tinggi. Prospek harga komoditas ekspor Indonesia hanya andalkan kenaikan minyak alias supply shock bukan karena sisi permintaan,”
jelasnya.
Bhima mengatakan, ekspor komoditas minyak sawit juga akan terdampak. Sebab, komoditas ini digunakan oleh industri makanan minuman dan oleokimia di China.
Minyak sawit ikut terdampak saat industri makanan minuman dan oleokimia di China alami penyesuaian order. Harus diantisipasi PHK di sektor utama seperti hilirisasi nikel, sawit, dan batu bara,”
terangnya.
Maka dari itu, Bhima menilai pemerintah harus melakukan diversifikasi ekspor ke negara lainnya seperti kawasan Kepulauan Pasifik hingga Amerika Selatan.
Pemerintah harus geser ke negara lain, diversifikasi ekspor termasuk ke intra ASEAN, Kepulauan Pasifik hingga Amerika Selatan,”
katanya.
Ekonomi RI Diproyeksi Melambat
Akibat kondisi ini, Bhima memproyeksi ekonomi RI hanya akan tumbuh di 4,97 persen pada 2026. Menurutnya, setiap 1 persen pelemahan pertumbuhan ekonomi China dampaknya 0,05 persen ke ekonomi Indonesia.
Kalau China turun dari 5 persen ke 4,5 persen atau berkurang 0,5 persen maka ekonomi Indonesia bisa terpengaruh 0,025 persen alias tahun ini ekonomi Indonesia tumbuh 4,97 persen, jika asumsi tumbuh 5 persen year on year,”
ujar Bhima.
Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China merupakan negara tujuan ekspor non migas terbesar Indonesia sepanjang 2025. Ekspor non migas ke negara ini mencapai US$64,82 miliar atau sekitar 24,02 persen dari total ekspor non migas pada 2025.
Ekspor yang paling banyak dilakukan RI utamanya adalah besi dan baja sebesar US$17,92 miliar atau memberikan kontribusi 27,65 persen. Kemudian bahan bakar mineral sebesar US$10,47 miliar atau 16,16 persen, serta nikel dan barang daripadanya US$7,86 miliar atau 12,13 persen.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Investasi dan hilirisasi (BKPM) negara dengan realisasi investasi terbesar RI sepanjang 2025 adalah China. Investasi China di Indonesia mencapai US$7,5 miliar atau 7,9 persen.


