Kebijakan belanja masif pada awal tahun 2026 melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dinilai mengadopsi gaya “bakar uang” seperti perusahaan rintisan (startup).
Risiko strategi ini ialah mengancam keberlanjutan postur keuangan negara. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menganalogikan pengelola APBN saat ini persis seperti perusahaan startup yang baru mendapatkan suntikan dana dari Venture Capital (VC).
Pemerintah sedang ‘bakar uang’. ‘Bakar uang’ itu tidak akan berkelanjutan. Ini persis seperti zaman startup dahulu. Visinya karena sedang banyak suntikan dana, rekrut banyak orang, perluasan kantor. Padahal yang paling dibutuhkan adalah keberlanjutan dan kesehatan keuangan,”
kata Bhima kepada Owrite.id.
Bahaya Kebangkrutan
Meski pola serupa, risiko yang ditanggung pun berbeda. Bila sebuah startup gagal dan bangkrut maka kerugian sebatas pada perusahaan itu saja. Sementara, jika pola “bakar uang” dilakukan di level negara kemudian gagal, dampaknya bakal menghantam perekonomian nasional.






