Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk Arab dalam pidatonya pada Sabtu pagi, 7 Maret 2026.
Pezeshkian mengatakan bahwa Teheran akan berhenti menyerang negara-negara tetangganya, kecuali jika serangan terhadap Iran berasal dari negara-negara tersebut.
Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang diserang oleh Iran,”
katanya dalam siaran di televisi pemerintah.
Kami tidak bermaksud menyerang negara-negara tetangga. Seperti yang telah berulang kali saya katakan, mereka adalah saudara kita,”
tambahnya, dikutip dari CNN Internasional, Sabtu 7 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa dewan kepemimpinan sementara telah memberi tahu angkatan bersenjata bahwa mulai sekarang tidak boleh ada serangan terhadap negara-negara tetangga atau serangan rudal.
Kecuali jika mereka ingin menyerang kita dari negara-negara tersebut. Saya pikir kita perlu menyelesaikan ini dengan diplomasi daripada berperang dan menimbulkan masalah dengan negara-negara tetangga,”
jelasnya.
Ia pun mendesak negara-negara Teluk untuk tidak menjadi mainan di tangan imperialisme, dan memperingatkan mereka untuk tidak menyerang wilayah Iran.
Belum jelas apakah pengumuman presiden tersebut berlaku sesegera mungkin. Namun, setelah pidato tersebut, serangan dari Iran terus berlanjut pada Uni Emirat Arab dan sirene berbunyi di Bahrain.
Hal ini terjadi setelah seminggu pemboman Iran yang hampir terus-menerus terhadap negara-negara tetangganya di Teluk, dan menutup wilayah udara kawasan tersebut serta memicu gelombang pengungsi yang mencoba meninggalkan Timur Tengah.

