Perekonomian Iran mengalami gejolak yang semakin serius. Sejak perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, dan Amerika Serikat (AS) melakukan serangan udara terhadap fasilitas nuklir utama Iran, perekonomian negara ini ada dalam ketidakpastian.
Salah satu warga di Isfahan, Iran yakni Marjan mengaku dulu bisa makan di luar dua kali sebulan. Namun saat ini tidak lagi, karena harus menabung.
Sekarang kami tidak bisa lagi. Kami harus menabung uang itu untuk membayar sewa,”
ujarnya dilansir dari BBC dikutip Minggu, 8 Maret 2026.
Marjan selama enam tahun terakhir, menjual kerajinan kayu dan gantungan kunci melalui Instagram. Akan tetapi, saat pemerintah memberlakukan pemadaman internet pada awal Januari, banyak warga kehilangan penghasilan.
Penjualan kami dulu mencapai 300 juta rial (sekitar $185 di pasar terbuka) per bulan. Sekarang bahkan tidak sampai 30 juta rial,”
katanya.
Situasi ekonomi pun semakin memburuk dalam beberapa minggu sejak demonstrasi meletus, demonstrasi ini terjadi pada Januari 2026. Dua bulan lalu harga sapi senilai 7 juta rial per kilogram, namun harganya kini melonjak.
Tapi saya membeli daging sapi dua hari yang lalu seharga 19 juta rial per kilogram, lebih dari dua kali lipat. Saya membeli beras Iran pada akhir musim panas seharga 1,7 juta rial per kilogram, sekarang harganya 3,8 juta,”
ujar Mina seorang ibu dua anak berusia 44 tahun di Tehran.
Adapun data resmi menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir, harga barang-barang kebutuhan pokok naik rata-rata 60 persen, sementara harga makanan naik dua kali lipat dalam periode yang sama.
Kondisi ini bukan hanya terjadi dalam setahun terakhir. Biaya keranjang belanja makanan rata-rata sebuah keluarga saat ini delapan kali lipat dari lima tahun lalu dan lebih dari 30 kali lipat dari tahun 2016.
Salah satu faktor utama kenaikan biaya yang tajam ini adalah nilai mata uang rial Iran yang turun dengan cepat. Sejak Mei 2018, ketika Donald Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran dan memberlakukan kembali sanksi luas terhadap negara tersebut, mata uang Iran telah kehilangan lebih dari 95 persen nilainya terhadap dolar AS di pasar terbuka.



