Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 6 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / Kasus Fadia Arafiq Buka Borok Politik, Bukti Rapuhnya Kaderisasi Parpol di Indonesia
Politik

Kasus Fadia Arafiq Buka Borok Politik, Bukti Rapuhnya Kaderisasi Parpol di Indonesia

rahmat-baihaqi-jurnalis-owritedusep-malik
Last updated: Maret 10, 2026 4:34 pm
By
Rahmat Baihaqi
rahmat-baihaqi-jurnalis-owrite
ByRahmat Baihaqi
Reporter
Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Jaya, mulai meniti karier sebagai jurnalis pada tahun...
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
5 bulan lalu
Share
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq (tengah) berjalan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK Merah Putih, Jakarta.
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq (tengah) berjalan usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK Merah Putih, Jakarta. (Sumber: Antara foto/Muhammad Adimaja/bar)
SHARE

Fadia Arafiq sebelumnya menyatakan bahwa dirinya berlatar belakang sebagai musisi dangdut, bukan seorang birokrat sehingga tidak memahami hukum dan tata kelola pemerintahan daerah.

Daftar isi Konten
  • Proses Kaderisasi Partai Terhadap Publik Figur Cuma Menggugurkan Administrasi
  • Kehidupan Hedonisme Publik Figur
  • Fenomena ‘Partai Artis Nasional’

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK dalam konferensi pers penetapan tersangka korupsi Bupati Pekalongan .

Pengakuan Fadia menjadi tamparan keras bagi seorang publik figur yang banting setir menjadi kepala daerah hingga anggota parlemen tanpa mengetahui sistem hukum dan tata kelola pemerintahan.

Pelantun lagu itu alih profesi menjadi birokrat dengan jabatan Wakil Bupati Pekalongan periode 2011–2016. Kemudian ia menjabat Bupati Pekalongan selama dua periode berkat disokong partai .

Dalam kurun waktu tersebut, mantan pedangdut Fadia malah lebih sering mengurus acara-acara yang bersifat seremonial. Sementara anak buahnya mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis.

Dari kasus korupsi Fadia, hal ini membuka celah kritik terhadap partai yang merekrut kader berlatar belakang publik figur lalu didorong menjadi anggota dewan hingga kepala daerah.

Proses Kaderisasi Partai Terhadap Publik Figur Cuma Menggugurkan Administrasi

Pengamat politik Citra Institute, Efriza menilai tujuan utama partai merekrut publik figur yaitu ingin mendulang suara karena popularitasnya. Dengan bergabungnya seorang publik figur ke partai, otomatis bisa mendongkrak suara dengan mudah.

Namun hal yang paling disorot yakni pada proses kaderisasi partai itu sendiri.

Efriza bilang tujuan kaderisasi adalah memberikan pendidikan kepada kader yang menjadi anggota dewan atau kepala daerah mengenai peraturan, hukum, termasuk pemerintahan.

Inilah kondisi miris di dalam perekrutan anggota partai politik, karena anggota partai politik direkrut diajukan sebagai pejabat, namun mereka (publik figur) tidak punya kapasitas yang memadai dan tidak punya moral yang baik,”

ujar Efriza saat dihubungi owrite, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut Efriza, proses kaderisasi oleh partai cuma bak menggugurkan administrasi. Partai merekrut orang, membuat KTA lalu didorong menjadi pejabat.

Padahal, ada banyak tahapan seseorang masuk menjadi kader partai. Calon kader harus memahami ideologi, visi misi partainya masing-masing, memahami kerja pemerintahan, sampai akhirnya kader itu punya pemahaman yang mumpuni ketika dicalonkan dan terpilih menjadi pejabat penyelenggara negara.

Kehidupan Hedonisme Publik Figur

Beda halnya lagi bagi seorang publik figur yang telah terpilih menjadi kepala daerah atau anggota parlemen.

Kata Efriza, kehidupan publik figur tidak terlepas dari gaya hidup serba glamor. Keberadaan mereka yang saat ini menjabat sebagai kepala daerah justru mencoreng tujuan utama menjadi seorang penyelenggara negara.

Mereka sudah hidup dengan glamor dan ketika mereka memilih menjadi pejabat negara atau anggota dewan, mereka itu malah lebih terobsesi untuk memperkuat dirinya, memperkaya dirinya,”

beber Efriza.

Akhirnya yang terjadi adalah bagaimana mereka ketika berada di sana, bukan panggilan jiwa, bukannya pengabdian, bukan kesejahteraan yang ingin diberikan kepada masyarakat, tapi bagaimana dia tetap bisa dengan gaya hidup hedonnya,”

sambung dia.

Fenomena ‘Partai Artis Nasional’

Perekrutan anggota dari publik figur yang serampangan tanpa adanya kaderisasi yang serius menjadi kesalahan fatal bagi sebuah partai. Mereka didorong terjun ke dunia politik tanpa dibekali pengetahuan yang mendasar.

Kalaupun artis atau musisi terkenal yang ingin terjun ke dunia politik, setidaknya mereka harus dikaderisasi selama satu hingga dua periode. Setelah itu, mereka dipersiapkan untuk benar-benar terjun ke dunia politik.

Nah, ini yang tidak pernah masuk di dalam pemberian pengkaderan atau pemberian ilmu bagaimana mendidik para publik figur itu. Yang ada adalah kita lihat ‘partai artis nasional’ misalnya, yang bagaimana partai dengan merekrut artis sebanyak-banyaknya untuk terpilih,”

kata Efriza.

Proses kaderisasi lagi-lagi menjadi hal penting untuk dilakukan oleh masing-masing partai agar tidak ada lagi Fadia kesekian kalinya berurusan dengan hukum tanpa tahu tata kelola pemerintahan.

Tag:Bupati PekalonganFadia ArafiqKorupsiKPKparpolpartai politik
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
rahmat-baihaqi-jurnalis-owrite
ByRahmat Baihaqi
Reporter
Follow:
Reporter OWRITE berfokus pada peliputan isu hukum, kriminal, dan nasional. Setelah resmi menyandang Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Jaya, mulai meniti karier sebagai jurnalis pada tahun 2022.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Polemik ‘Gerombolan Sirkus’, Deddy Sitorus Layangkan Somasi dan Ultimatum 3×24 Jam ke Pengurus KWP
By Rika Pangesti
Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus
1
BPS: Laju Ekonomi RI Kuartal II-2026 Melambat ke 5,29 Persen
By Anisa Aulia
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di kantornya, 5 Agustus 2026.
2
Narasi Tim Jokowi soal Gelar Raja di NTT Berubah-ubah, Kredibilitas Politik Terancam
By Rahmat Tunny
Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi saat di NTT.
3
Viral Pasien BPJS Soroti Komentar Nakes yang Tak Berempati
By Syifa Fauziah
Petugas melayani warga peserta program BPJS Kesehatan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Pusat, Jakarta
4
Kenapa Makin Banyak Nyamuk di Musim Kemarau? Ini Penjelasan Ilmiahnya 
By Ani Ratnasari
Nyamuk saat musin panas
5

BERITA LAINNYA

Anggota Komisi IX DPR Fraksi NasDem, Irma Suryani Chaniago
Politik

Pasien yang Keluhkan Tunggu Kamar RS Meninggal, DPR Desak Nakes Diduga Hina Diberi Sanksi

Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago mendesak rumah sakit memberikan…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
8 jam lalu
Ilustrasi Gedung DPR
Politik

Pasien Meninggal Usai Berjam-jam Tunggu Kamar RS, DPR Bongkar Masalah Besar Layanan Kesehatan

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyoroti kasus pasien yang…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
8 jam lalu
Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi bersama PSI safari politik di Lampung. (Foto: IG PSI).
Politik

Waduh! Gelar ‘Raja Timur’ Jokowi Sudah Diseting oleh PSI Sebelum Safari Politik Ke NTT

Politisi PDI Perjuangan Mohammad Guntur Romli mengatakan narasi pemberian gelar “Raja Timur”…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
8 jam lalu
Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam bersama Sharifah Rashifah dari Malaysian United Democratic Alliance (MUDA).
Politik

Anak Muda Makin Alergi dengan Politik yang Tak Memberikan Harapan

Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
8 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up