Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina, mengingatkan pemerintah agar menjaga stabilitas distribusi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat kepercayaan publik terkait ketersediaan energi nasional.
Peringatan ini muncul setelah berkembang kekhawatiran di masyarakat menyusul pernyataan pemerintah yang menyebut ketahanan stok BBM nasional berada di kisaran 21 hingga 25 hari.
Menurut Nevi, informasi mengenai kapasitas cadangan operasional BBM tersebut perlu dijelaskan secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Ia menilai penjelasan yang tidak lengkap dapat memicu kepanikan hingga mendorong terjadinya pembelian BBM secara berlebihan di sejumlah wilayah.
Ketika masyarakat mendengar bahwa stok BBM hanya tersedia untuk sekitar tiga minggu, sebagian orang langsung menganggap akan terjadi kelangkaan. Padahal yang dimaksud adalah kapasitas cadangan operasional di tangki penyimpanan nasional, bukan berarti pasokan BBM akan habis dalam waktu tersebut,”
ujar Nevi di Jakarta Rabu 11 Maret 2026.
Faktor Pemicu Panic Buying di Masyarakat
Politisi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini menjelaskan bahwa fenomena panic buying biasanya dipicu oleh beberapa faktor.
Beberapa di antaranya adalah ketidakpastian informasi, efek psikologi massa, serta kekhawatiran terhadap kondisi geopolitik global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia.
Sering kali rasa takut masyarakat lebih besar daripada kondisi sebenarnya. Ketika sebagian orang mulai menimbun BBM, masyarakat lain ikut melakukan hal yang sama. Inilah yang kemudian memicu antrean panjang di SPBU dan mengganggu distribusi,”
jelasnya.
Nevi menambahkan bahwa panic buying justru berpotensi menciptakan kelangkaan buatan atau artificial scarcity.
Kondisi tersebut dapat mengganggu sistem distribusi energi nasional, bahkan berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat masyarakat.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan komunikasi publik yang cepat, terbuka, dan berbasis data agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat.
Distribusi BBM Harus Dijaga
Selain komunikasi publik, Nevi juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas distribusi BBM mulai dari kilang, depo penyimpanan, hingga ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Ia juga meminta pengawasan diperketat untuk mencegah potensi penimbunan maupun penyalahgunaan BBM.
Pengawasan terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM juga harus diperketat, terutama dalam situasi yang rentan memicu spekulasi,”
tegasnya.
Lebih jauh, Nevi menilai situasi ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat cadangan energi nasional dalam jangka panjang.
Saat ini, cadangan BBM Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain seperti Jepang yang memiliki cadangan sekitar 254 hari, Amerika Serikat sekitar 90–120 hari, serta kawasan Uni Eropa dan China yang rata-rata memiliki cadangan minimal 90 hari.
Penguatan cadangan energi strategis harus menjadi agenda jangka panjang. Peningkatan kapasitas tangki penyimpanan serta pembangunan cadangan energi nasional merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan,”
tutup Nevi Zuairina.


