Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang kembali memanas sejak 28 Februari 2026 kemarin, berdampak pada kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata, Bali.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjok Ace mengatakan pada awal konflik itu, Bali kehilangan sekitar 1.500 wisatawan per hari.
Hal itu karena banyak wisatawan dari Eropa yang terbang ke Bali melewati Timur Tengah.
Penerbangan terganggu, karena kebanyakan sekarang wisatawan Eropa, pakai jalur itu. Di lima hari pertama itu per hari kami kehilangan sekitar 1.500 (kunjungan wisatawan),”
ujar Tjok Ace kepada owrite, Rabu, 11 Maret 2026.
Lebih lanjut ia mengatakan saat ini Bali memasuki low season. Target kunjungan wisatawan harusnya tembus 18 ribu per hari, namun tidak tercapai karena adanya konflik tersebut.
Sebenarnya kami kalau pada bulan-bulan ini sudah menyentuh angka 18 ribu per hari, kemarin saja hanya 15 ribu. Jadi secara ekspektasi saya ada sekitar 16 ribu sampai 18 ribu wisatawan, sekarang yang tercapai sekitar 15 ribu per hari. Jadi kami kehilangan sekitar 2 ribu sampai 3 ribu wisatawan per hari,”
tuturnya.
Tak hanya daerah yang melewati Middle East saja yang terdampak, tapi negara lain juga terpengaruh kedatangannya.
“Ini kan situasi geopolitik global ya, jadi mereka khawatir juga bepergian,”
ucapnya.
Tjok Ace mengatakan tidak sedikit juga wisatawan yang tertahan di Bali karena tidak bisa melakukan penerbangan ke negara mereka. Yang tertahan ini, pihaknya memberi kebijakan.
Hotel kami kasih harga yang khusus. Yang tidak datang cancellation fee-nya kami tidak berlakukan. Kami ada toleransi-toleransi gitu,”
jelasnya.
Tjok Ace menambahkan untuk saat ini, wisatawan yang berkunjung ke Bali didominasi dari China, Australia dan India.
China menunjukkan angka peningkatannya cukup bagus juga. Kebetulan ketiga (negara) ini kan tidak lewat Middle East ya. Australia langsung, China juga flightnya langsung. Jadi nggak terpengaruh dengan kondisi penerbangan yang ke Middle East,”
tambahnya.


