Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 22 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • iran
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Defisit APBN 2026 di Persimpangan: Fleksibilitas Fiskal atau Ancaman Kredibilitas?
Ekonomi Bisnis

Defisit APBN 2026 di Persimpangan: Fleksibilitas Fiskal atau Ancaman Kredibilitas?

Nisa-OWRITEdusep-malik
Last updated: Maret 19, 2026 2:17 pm
Anisa Aulia
Dusep Malik
Share
Ilustrasi Surat Utang Negara. (Sumber: Gambar dibuat AI)
Ilustrasi Surat Utang Negara. (Gambar dibuat AI)
SHARE

Pemerintah sebelumnya dikabarkan akan melakukan penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, dengan memperlebar batas defisit lebih dari 3 persen. Hal ini dilakukan sebagai respons atas gejolak perang di Timur Tengah yang berpotensi menekan APBN.

Daftar isi Konten
  • Dampak Buruk Pelebaran Defisit
  • Risiko Penurunan Kepercayaan
  • Pengusaha Khawatir Utang Bertambah
  • Pemerintah Belum Akan Ubah Defisit Hanya Efisiensi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Sidang Kabinet mengusulkan opsi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) agar defisit bisa melampaui 3 persen.

Dengan Perpu ini kita langsung pemerintah punya fleksibilitas untuk perubahan,”

ujar Airlangga dikutip Rabu, 18 Maret 2026.

Pemerintah sudah menyusun tiga skenario kenaikan defisit dengan mengacu pada lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN). 

Skenario pertama dengan asumsi harga rata-rata minyak dunia sebesar US$86 per barel, dengan nilai tukar rupiah Rp17.000 per dolar AS atau di atas asumsi makro yang sebesar Rp16.500, pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, dan SBN 6,8 persen. Maka defisit APBN akan sebesar 3,18 persen dari produk domestik bruto.

Skenario kedua, harga rata-rata minyak US$97 per barel, nilai tukar rupiah Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan SBN 7,2 persen, maka defisit APBN akan sebesar 3,53 persen. 

Ketiga skenario pesimis, dengan harga minyak dunia mencapai US$115 per barel, kurs rupiah Rp17.500, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, SBN 7,2 persen. Maka defisit APBN akan mencapai 4,06 persen.

Purbaya Sebut Pemerintah Belum Siapkan Perpu Ubah Defisit APBN

Dampak Buruk Pelebaran Defisit

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman menilai pelebaran defisit di atas 3 persen bukan sekadar isu teknis fiskal, tetapi menyangkut kredibilitas kebijakan. 

Selama ini, batas defisit 3 persen berfungsi sebagai jangkar disiplin yang menjaga persepsi pasar terhadap kehati-hatian fiskal Indonesia. Namun, bila pemerintah melakukan langkah memperlebar batas defisit, pasar akan mengartikan bahwa ruang fiskal kian sempit dan kualitas penyesuaian kebijakan melemah.

Dalam konteks ini, masalah utamanya bukan angka defisit. Tetapi ketidakmampuan melakukan reprioritisasi belanja dan optimalisasi penerimaan secara kredibel,”

tekan Rizal saat dihubungi owrite.

Dari sisi stabilitas makro, Rizal mengatakan pelebaran defisit akan memberikan dampak langsung secara berlapis. Defisit yang lebih lebar mengartikan kebutuhan pembiayaan meningkat, mendorong yield SBN naik, serta memperbesar beban bunga utang di APBN. 

Lalu pada saat yang sama, persepsi risiko yang meningkat akan menekan nilai tukar rupiah, terutama jika investor melihat tidak ada strategi konsolidasi fiskal yang jelas. 

Kombinasi ini berpotensi menciptakan policy trade-off yang semakin berat bagi Bank Indonesia, karena ruang pelonggaran moneter akan tereduksi akibat fokus pada stabilisasi kurs dan arus modal. Jika tidak dikelola hati-hati, ini bisa berujung pada tekanan simultan di pasar obligasi, valas, dan likuiditas domestik,”

tuturnya.

Risiko Penurunan Kepercayaan

Rizal mengatakan, saat ini persepsi investor dan lembaga pemeringkat sudah berada dalam fase sensitif. Perubahan outlook menjadi negatif oleh beberapa lembaga global belakangan ini mencerminkan kekhawatiran terhadap penurunan kualitas kebijakan dan meningkatnya risiko fiskal. 

Dalam situasi seperti ini, pelebaran defisit di atas 3 persen akan sangat mudah diinterpretasikan sebagai konfirmasi risiko, bukan kebijakan countercyclical yang terukur,”

katanya.

Dampak yang akan terasa bagi RI berupa capital outflow atau modal asing kabur dari pasar keuangan, kenaikan premi risiko, dan peningkatan biaya pembiayaan. Dampaknya tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga sektor swasta. 

Bahkan, dalam skenario ekstrem, hal ini dapat mempercepat tekanan terhadap rating sovereign jika tidak diimbangi dengan reformasi fiskal yang jelas,”

tekannya.

Maka dari itu, Rizal mengatakan isu utama bukan pada fleksibilitas defisit, melainkan pada tata kelola atau governance, dan kredibilitas kebijakan. Pelebaran defisit hanya dapat diterima pasar jika memenuhi tiga syarat utama yakni bersifat sementara, berbasis pada guncangan yang terukur, serta disertai peta jalan konsolidasi fiskal yang jelas untuk kembali ke bawah 3 persen.

Tanpa itu, Indonesia berisiko masuk dalam spiral penurunan kepercayaan, yakni yield naik, rupiah melemah, beban bunga membesar, dan ruang fiskal semakin tertekan,”

ujarnya.

Menurut Rizal, dalam jangka menengah ini justru kontraproduktif terhadap tujuan menjaga pertumbuhan. Sebab, stabilitas makro yang terganggu akan menahan investasi dan memperlemah daya dorong ekonomi secara keseluruhan.

Pengusaha Khawatir Utang Bertambah

Di samping itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengaku khawatir bila pemerintah benar-benar melakukan pelebaran defisit di atas 3 persen. Pengusaha risau, langkah itu akan menambah utang.

Kami juga tentu saja khawatir ya, karena gimana pun juga kan kalau pelebaran defisit itu kan berarti bisa ada penambahan utang. Dan penambahan utang itu juga nantinya akan berpengaruh kepada Indonesia sendiri, dan juga kepada rating kita juga harus hati-hati gitu kan,”

ujar Shinta.

Shinta mendukung, langkah pemerintah saat ini yang sudah menyatakan bahwa tidak akan memperlebar batas defisit di atas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

Kami mendukung bahwa pemerintah sangat berhati-hati untuk tidak mau melakukan pelebaran defisit, yang disampaikan Bapak Presiden kami sangat apresiasi,”

katanya.

Pemerintah Belum Akan Ubah Defisit Hanya Efisiensi

Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah menyatakan pemerintah belum berencana mengubah aturan batas defisit tersebut, kecuali jika Indonesia menghadapi situasi darurat yang sangat besar. 

Salah satu faktor yang memungkinkan adanya pelonggaran defisit secara jangka pendek adalah jika harga minyak mentah dunia melonjak tinggi dalam waktu lama, akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

Batas defisit adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita sendiri. Indonesia tidak memiliki rencana untuk mengubah aturan tersebut kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19,”

ujar Prabowo.

Saat ini, pemerintah memilih untuk melakukan efisiensi anggaran Kementerian Lembaga (K/L) agar defisit APBN tidak melebihi batas 3 persen. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, sudah meminta kepada kementerian lembaga menghitung ulang anggaran yang bisa dipotong. 

Namun, pemotongan anggaran K/L belum tentu dieksekusi. Perhitungan ini sebagai langkah awal supaya ketika diperlukan, bisa dieksekusi dengan benar.

Nanti kita mungkin dalam seminggu ke depan Kementerian Keuangan akan menentukan langkah awal bagi mereka untuk siap-siap ngitung, tetapi belum tentu eksekusi ya. Kalau mau dipotong yang mana yang mau dipotong, kira-kira gitu. Nanti mereka adjust kebijakannya berdasarkan potongan,”

ujar Purbaya.

Sedangkan Menko Airlangga mengatakan, efisiensi anggaran K/L yang akan dilakukan pemerintah adalah menyasar pos belanja jasa, perjalanan dinas, hingga belanja peralatan.

Efisiensi itu bisa macam-macam, bisa dari belanja jasa, belanja perjalanan dinas, belanja aparatur, belanja peralatan. Kemudian dari masing-masing K/L juga ada program nanti yang bisa disisir,”

tuturnya.

Pemerintah jelasnya, tidak akan memangkas anggaran program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Hal ini karena program tersebut merupakan investasi jangka panjang.

Program unggulan tidak ada yang dirubah, semua tetap berjalan karena itu investasi jangka panjang,”

tegasnya.
Survei LPEM UI: Ekonom Ragu Pemerintah Mampu Jaga Defisit 3% Tanpa Korbankan Kualitas Belanja
Tag:APBN 2026Berita PentingDefisitHarga MinyakperangPurbayaSpillsurat utangtimur tengah
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro serta berbagai kebijakan ekonomi yang memengaruhi dunia usaha dan perekonomian Indonesia.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Jokowi ‘Curi Start’ Pilpres 2029, Ada Misi Mengunci Kursi Cawapres untuk Gibran
By Hardani Triyoga
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
1
Janji Kompensasi Mandalika Diduga Zonk, ITDC dan Dinas Perkim Loteng Dilaporkan ke KPK
By Rahmat Baihaqi
LSBH NTB melaporkan dugaan korupsi relokasi pemukiman Mandalika kepada KPK, 22 Juni 2026.
2
Golkar Tuduh PDIP Main Dua Kaki, Pengamat Curiga Ada Data yang Belum Dibuka ke Publik
By Rahmat Tunny
Pengamat politik, Ujang Komaruddin.
3
Teriak Takbir Pakai Baju Tahanan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
By Rahmat Baihaqi
Roy Suryo dan dr. Tifa dilimpahkan kepada Kejari Jaksel dari Rutan Polda Metro Jaya, Senin, 22 Juni 2026.
4
Usai Bikin Geger Pemadaman Bergilir, PLN Klaim Gangguan Listrik Jawa Berangsur Pulih
By Natania Longdong
Direktur Utama PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers di PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali), Depok, Jawa Barat. (Sumber: Dok. PLN)
5

BERITA LAINNYA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Buka Peluang TKD 2027 Naik hingga Rp90 Triliun, Tapi Tunggu Ini…

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka ruang menaikkan Transfer ke Daerah (TKD)…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
20 menit lalu
Ilustrasi 7.000 Pekerja Otomotif Terancam PHK. (Gambar dibuat AI)
Ekonomi Bisnis

Alarm PHK, 7.000 Pekerja Otomotif Terancam Nganggur Gegara Investor Cabut ke Vietnam

Indonesia terancam mengalami badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebanyak 7.000 pekerja di…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
28 menit lalu
Ilustrasi Surat Utang Negara. (Sumber: Gambar dibuat AI)
Ekonomi Bisnis

Investor Patriot-Merah Putih Bond Bebas Gugatan Perdata dan Pidana, Pemerintah Bilang Gini

Pemerintah memberikan perlindungan bagi investor yang membeli surat utang khusus berupa patriot…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
30 menit lalu
Solar Panel (PLTS) dan Pembangkit LIstrik Tenaga Bayu (angin). (Sumber: Unsplash/Arno Senoner)
Ekonomi Bisnis

UMKM Keluhkan Mati Listrik PLN Bergilir, Benarkan PLTS Bisa Jadi Solusi Baru?

Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) mengaku telah menerima keluhan dari pelaku usaha mikro,…

iren natania longdongdusep-malik
By
Natania Longdong
Dusep Malik
47 menit lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up