Presiden Prabowo Subianto menyoroti budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) dan kebiasaan memberikan laporan palsu di kalangan birokrasi maupun institusi di Indonesia.
Hal ini disampaikannya dalam sebuah sesi dialog, ketika ia dimintai konteks terkait peringatan kerasnya terhadap laporan “akal-akalan”.
Prabowo menyadari kesalahan data dalam sebuah laporan dapat berakibat fatal, karena memicu pengambilan keputusan yang salah. Ia menegaskan kesiapannya untuk menerima laporan sepahit apa pun dari bawahannya.
Ditegaskan Prabowo, kebiasaan menutupi masalah demi menyenangkan pimpinan adalah penyakit lama yang harus segera diubah.
Budaya ABS ini, asal Bapak senang, asal Ibu senang, laporan palsu ini sudah membudaya. Saya kira di semua institusi. Ini sebagian dari masalah kami. Benar, kalau salah informasi, ya keputusan tidak baik,”
kata Prabowo dikutip dari akun Youtube miliknya, Jumat, 20 Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi, dia mengaku selalu menanamkan cara pikir waspada. Bahkan dia secara rutin memantau kritik di media sosial maupun podcast, termasuk yang bernada keras dan menyakitkan, untuk dijadikan bahan evaluasi dan pemeriksaan silang ke lapangan.
Bagi saya itu justru membuat saya lebih waspada. Jadi sebetulnya walaupun (cara penyampaian kritik dari publik dianggap) kurang ajar, tapi saya harus lebih waspada, baru saya cek,”
tambahnya.
Sebagai bukti bahwa ia tidak sekadar menerima laporan di atas meja, Prabowo mencontohkan hasil inspeksi mendadak terhadap fasilitas dapur untuk program Makan Bergizi (MBG).
Dari hasil pengecekan langsung di lapangan, pemerintah telah menindak tegas ribuan fasilitas yang tidak sesuai standar.
Prabowo menginstruksikan penerapan sertifikasi ketat meliputi kebersihan, keamanan makanan, hingga kualitas air.
Demi memastikan transparansi, pemerintah juga membuka saluran pengaduan (layanan bebas pulsa) bagi masyarakat, orang tua, hingga kepala sekolah dapat mengecek titik koordinat dapur dan melayangkan komplain jika ditemukan pelanggaran.
Berkaca dari Pengalaman Militer
Sikap keras Prabowo terhadap laporan palsu dilatarbelakangi oleh pengalaman masa lalunya saat menjabat sebagai Komandan Kopassus.
Ia menceritakan kejadian saat menginspeksi pusat pendidikan di Batujajar. Saat itu, ia melihat latihan helikopter tiba-tiba dihentikan dan mendapat laporan bahwa pasukan sedang istirahat makan.
Namun, keesokan harinya, ia membaca laporan harian yang menyatakan telah terjadi kecelakaan helikopter di waktu dan tempat yang sama saat ia berkunjung.
Laporan tersebut sengaja ditutupi oleh bawahannya di lapangan karena alasan “tidak enak dengan komandan”.
Niatnya tidak (buruk). Tapi menurut saya, kalau lain kali jangan (berikan laporan palsu). Kasih tahu apa adanya, mungkin saya bisa bantu. Jadi memang laporan yang hanya bagus-bagus itu, itu budaya yang tidak baik,”
jelas Prabowo.
Perihal laporan dari Danantara, Prabowo menyatakan ia sempat mengejar pihak terkait untuk memastikan validitas data keberhasilan yang dilaporkan.
Ia mengingatkan, bahwa dirinya kini memegang pertanggungjawaban penuh dan memiliki wewenang untuk melakukan audit.
Sebagai penutup, Prabowo menegaskan filosofi kepemimpinannya yang menuntut jajarannya untuk berani menghadapi realitas dan tidak lari dari masalah.
“We have to have a new culture. Culture ini harus, harus walaupun sakit pahit, we have to face reality. kami harus siap untuk terima tidak baik, siap dimaki-maki, siap dicurigai, tidak apa-apa,”
tutur dia.
Seorang pemimpin yang baik tidak boleh takut menghadapi kesulitan. Kalau pemimpin yang unggul, lihat kesulitan harus dikejar. Rush to the problem, hadapi. Solve the problem,”
tegas Prabowo.

