Presiden Prabowo Subianto menanggapi fenomena menyusutnya kelas menengah dan tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia.
Solusi utama mengatasi masalah tersebut, sekaligus mencegah potensi kerusuhan sosial adalah melalui percepatan industrialisasi, hilirisasi, dan deregulasi aturan yang menghambat.
Hal tersebut diungkapkannya saat berdiskusi dengan ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, yang menyoroti 80 persen lapangan kerja yang tercipta pada rentang 2019-2024 didominasi sektor informal dengan upah minim, sementara banyak lulusan SMA/SMK hingga universitas yang masih menganggur.
Prabowo tidak menampik kekhawatiran tersebut. Ia mengaku miris melihat fakta meski pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat stabil di angka 5 persen selama 7 tahun, angka kemiskinan justru bertambah dan kelas menengah menyusut.
Bahwa kelas menengah turun. Itu yang menohok saya. Saya tadi bangga juga (pertumbuhan 5 persen). Oh, there’s something wrong with the system,”
aku Prabowo, dalam pertemuan dengan pakar di kediamannya di Hambalang, Selasa, 17 Maret 2026.
Hilirisasi Jadi Jalan Keluar
Sebagai jalan keluar, presiden mengusung konsep “Transformasi Bangsa” yang bertumpu pada penghentian ekspor bahan mentah.
(Hal) yang terjadi adalah deindustrialisasi, yang terjadi adalah uang Indonesia tidak tinggal di Indonesia. Saya ingin hilirisasi. That’s the only way. Indonesia tidak boleh ekspor lagi bahan mentah,”
ujar Prabowo.
Prabowo mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang, yang minim sumber daya alam, justru mampu mendominasi industri otomotif global. Sebaliknya, Indonesia yang kaya timah dan bauksit justru mengekspor material mentah tersebut tanpa nilai tambah.
Indonesia punya bauksit untuk alumina, diolah menjadi aluminium, aluminium jadi mobil. Tapi Indonesia tidak bikin proses bauksit. Maka saya bikin buku ‘Transformasi Bangsa’. Indonesia harus melakukan ratusan (pembangunan) pabrik. Itu yang kami sebut pohon industri,”
papar Prabowo.
Ia juga menyoroti komoditas lain seperti kelapa, kopi, dan cokelat. Indonesia merupakan produsen bahan mentah terbaik dunia, namun ironisnya, masyarakat Indonesia lebih sering mengonsumsi produk jadi (seperti Starbucks, Nestle, KitKat) yang diimpor dari luar negeri.
Bangun Industri Kendaraan Listrik
Dalam pembicaraan tersebut, Prabowo juga menyinggung rencana strategis pemerintah membangun industri otomotif nasional yang sepenuhnya difokuskan pada kendaraan listrik demi mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Merespons pertanyaan perihal industri mobil konvensional yang sudah ada, Prabowo menegaskan visinya untuk langsung melompat ke teknologi masa depan.
Saya ingin total (kendaraan) listrik. Saya ingin listriknya itu dari matahari. Kalau Indonesia mau pakai mobil combustion engine (bensin atau solar), masih tergantung lagi dengan impor,”
jelas dia.
Ia meyakini melalui transisi energi yang tepat, penghematan negara akan luar biasa terasa. Selain membangun industri, Prabowo menyadari bahwa “uang tidak menjadi masalah di Indonesia, melainkan birokrasi yang mengubahnya menjadi masalah.” Maka, ia berkomitmen untuk melakukan deregulasi aturan secara gila-gilaan.
Ia mencontohkan keberhasilannya memangkas birokrasi penyaluran pupuk bersubsidi, yang sebelumnya dijerat oleh 145 peraturan—terdiri dari puluhan undang-undang, Peraturan Presiden, hingga aturan teknis kementerian dan pemerintah daerah.
Contohnya, pupuk subsidi tidak sampai kepada petani. Bahkan bisa diselundupkan. Akhirnya pemerintah mengambil upaya hilangkan peraturan yang dianggap terlalu ribet, sehingga penyaluran dari pabrik langsung ke Gapoktan. Tidak usah pakai kartu macam-macam, cukup pakai KTP bisa beli produk tersebut.
Kemudian, eks jenderal Angkatan Darat itu menyadari mengeksekusi transformasi bangsa yang menyasar perbaikan gizi, penciptaan lapangan kerja padat karya dan pekerjaan berkualitas hingga deregulasi hukum secara bersamaan merupakan pekerjaan sangat berat.
Kami terpaksa multi-front, semua sektor harus dikerjakan serentak. Memang berat, memang banyak orang mengejek Indonesia tidak mungkin berhasil, tapi saya tidak, saya optimis. Saya yakin Indonesia akan berhasil,”
kata Prabowo.


