Para maskapai penerbangan terbesar di dunia telah kehilangan sekitar US$53 miliar atau setara dengan Rp898,6 triliun (dengan kurs Rp16.960) sejak perang AS-Israel melawan Iran. Laporan itu berdasarkan hasil dari Financial Times.
Konflik di Timur Tengah tersebut telah mengganggu pusat-pusat penerbangan utama di Teluk dan memaksa penangguhan penerbangan, serta memicu penurunan tajam di industri ini.
Para eksekutif maskapai penerbangan juga telah memperingatkan potensi kekurangan bahan bakar seiring berlanjutnya perang.
Harga bahan bakar jet telah berlipat ganda sejak akhir Februari, meningkatkan biaya operasional dan meningkatkan kemungkinan kenaikan harga tiket bagi para penumpang,”
menurut laporan Financial Times, dikutip Minggu, 22 Maret 2026.
Laporan tersebut berdasarkan hasil dari 20 maskapai penerbangan terbesar di dunia yang terdaftar di bursa saham.
Surat kabar Inggris itu juga mengatakan industri penerbangan sedang berada dalam cengkeraman krisis terburuknya sejak pandemi COVID-19, karena perang telah mengganggu bandara-bandara utama di Teluk dan menyebabkan penerbangan terhenti.
Diketahui, pada Sabtu, 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.
Serangan AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Kemudian, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Pada Minggu, 1 Maret 2026, Presiden AS, Donald Trump mengklaim, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan AS-Israel. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tersebut.
