Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan akan adanya agresi militer lebih lanjut terhadap Iran dalam dua atau tiga minggu ke depan. Akibatnya, harga minyak melonjak hingga 5 persen, karena memupus harapan bahwa konflik akan mereda dalam waktu dekat.
Melansir CNBC Kamis, 2 April 2026, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 5 persen menjadi US$106,42 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Mei naik 4,1 persen menjadi US$104,21 per barel.
Trump dalam pidatonya mengaitkan kenaikan harga minyak dengan rezim Iran yang melancarkan serangan teror gila-gilaan terhadap kapal tanker minyak komersial dan negara-negara tetangga yang tidak ada hubungannya dengan konflik tersebut.
Dia mengatakan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua atau tiga minggu ke depan dalam pidato nasional pada Rabu, seraya menambahkan bahwa perang tidak akan berlangsung lama dan pembicaraan dengan Teheran masih berlangsung. Sehingga, membuka peluang penyelesaian diplomatik.
Kami akan menyelesaikan tugas ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat,”
katanya.
Di samping itu, pemerintah Indonesia sudah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, meski harga minyak dunia sudah melampaui asumsi APBN 2026 yang dipatok di angka US$70 per barel.
Akibat kondisi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, bahwa anggaran subsidi energi tahun ini akan membengkak di kisaran Rp90-Rp100 triliun karena keputusan tidak menaikkan harga BBM.
(Tambahan anggaran) Rp90 triliun sampai Rp100 triliun itu subsidi, kompensasi lain. Angka detailnya saya lupa,”
ujar Purbaya di Wisma Danantara.
Purbaya mengungkapkan, tambahan anggaran subsidi energi ini berasal dari penghematan belanja Kementerian Lembaga (K/L) yang dibagi menjadi tiga tahap.
Kita melakukan penghematan tahap satu, tahap dua, tahap tiga di belanja kementerian lembaga yang nggak terlalu jelas,”
jelasnya.


