Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi perang berkepanjangan di Timur Tengah yang dapat mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC pada Jumat, 3 April 2026, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak Mei ditutup naik lebih dari 11 persen atau naik US$11,42 menjadi US$111,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga menguat hampir 8 persen atau US$7,87 ke level US$109,03 per barel.
Lonjakan harga ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memperingatkan potensi eskalasi militer lebih lanjut terhadap Iran dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Pernyataan tersebut memupus harapan pasar akan de-eskalasi konflik dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya, Trump menuding Iran sebagai pihak yang memicu kenaikan harga minyak melalui serangan terhadap kapal tanker dan negara-negara tetangga. Ia bahkan menegaskan bahwa Washington akan “menghantam Iran dengan sangat keras” dalam waktu dekat.
Kami akan menyelesaikan ini dengan cepat,”
ujar Trump.
Meski demikian, kenaikan harga sempat tertahan setelah kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Teheran tengah bekerja sama dengan Oman untuk menyusun protokol pengawasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan jalur pelayaran tersebut berpotensi kembali dibuka jika berada di bawah koordinasi kedua negara.

Sebagai salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global. Namun sejak konflik antara AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, aktivitas di jalur tersebut nyaris terhenti, memicu lonjakan harga energi global
Sebelumnya, Trump sempat mengklaim Iran meminta gencatan senjata, yang sempat menekan harga minyak. Namun pernyataan itu dibantah Teheran, yang menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh militernya dan tidak akan dibuka berdasarkan tekanan Amerika.
Kedua pihak juga terus saling bertentangan terkait peluang perundingan damai. Di satu sisi, Washington menyatakan negosiasi masih berlangsung. Namun di sisi lain, AS juga menyiapkan opsi eskalasi dengan pengerahan ribuan pasukan tambahan ke kawasan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar global kini berada dalam kondisi “risk-off”, dengan investor menunggu arah konflik yang lebih jelas dalam beberapa pekan ke depan.



