Covid-19 terus mengalami mutasi sejak pertama kali muncul. Salah satu turunan yang belakangan ramai dibicarakan adalah subvarian dari omicron, yang dikenal secara ilmuan sebagai BA.3.2 atau Cicada.
Nama Cicada bukanlah nama resmi dari WHO, hanya julukan yang muncul di media. Istilah ini terinspirasi dari Cicada, serangga bersayap yang dikenal sebagai tonggeret.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa subvarian ini telah terdeteksi di beberapa wilayah negara, terutama wilayah Eropa Timur dan AS yang sudah memasuki tanda waspada. Sebanyak 30 persen kasus di beberapa negara Eropa Timur berasal dari varian BA.3.2 ini, sementara di AS sudah terdeteksi di 25 negara bagian.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menjelaskan gejala subvarian ini sama seperti varian sebelumnya, tidak ada yang lebih berat.
Tapi ada satu gejala khas dari varian terbaru ini razorblade throat, yaitu sakit tenggorokan yang sangat perih,”
kata Prof Erlina dalam cuitannya di X @erlinaburhan, Sabtu, 4 April 2026.
Meski demikian, Prof Erlina mengatakan varian Cicada memiliki kemampuan menginfeksi sel paru yang lebih rendah dibanding varian-varian sebelumnya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Hingga akhir Maret ini, belum ditemukan kasusnya. Yang paling banyak beredar di Indonesia adalah varian XFG.
Meski demikian, Prof Erlina mengimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan.
Tetap jaga protokol kesehatan ya. Itu bukan hanya melindungi diri dari Covid-19, tapi juga dari berbagai infeksi lainnya,”
tandasnya.




