Nilai tukar rupiah hari ini bertahan di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin, 6 April 2026 rupiah ditutup melemah di level Rp17.035 per dolar AS atau 0,32 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa enggan merespons terkait ambruknya nilai tukar rupiah pada hari ini. Meski demikian, Purbaya memastikan bahwa pondasi ekonomi RI baik.
Anda tanya bank sentral dong, kalau saya ngomong nanti salah. Jadi saya pastikan pondasinya betul aja, biar sentimen pasti cepet berbalik,”
ujar Purbaya kepada wartawan Senin, 6 April 2026.
Purbaya mengatakan, dalam beberapa hari ini flow foreign ke bond atau pergerakan arus modal asing sudah membaik. Hal ini tercermin dari imbal hasil atau yield turun dari 6,9 persen ke 6,6 persen.
Kalau kita lihat flow, beberapa hari ini foreign ke bond, naik lagi dengan signifikan. Makanya bond market-nya kan yield-nya turun dari 6,9 ke 6,6 dari 6,9 ke 6,6 itu indikasi yang baik bahwa mereka percaya kita stabil kondisinya,”
jelasnya.
Sebelumnya, Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah ini masih dipicu oleh sentimen perang di Timur Tengah karena perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang masih terus naik,”
ujar Lukman saat dihubungi owrite Senin, 6 April 2026.
Selain itu kata Lukman, pelemahan rupiah juga didorong oleh data pekerjaan AS NFP (Non Farm Payroll) yang dirilis lebih kuat. Sehingga, membuat indeks dolar AS mengalami penguatan.


