Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara, terkait kenaikan sejumlah harga di masyarakat meski pemerintah menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satu kenaikan saat ini adalah plastik.
Airlangga mengatakan, kenaikan harga plastik yang saat ini terjadi disebabkan oleh bahan baku petrokimia. Diketahui, bahan baku petrokimia berasal dari minyak bumi dan gas, yang kini pasokannya tengah terganggu akibat perang di Timur Tengah.
Itu kan plastik memang berubah harganya. Bahan baku itu kan selalu berbasis siklus utamanya petrokimia,”
ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Airlangga mengatakan, pemerintah akan terus memantau kenaikan harga bahan baku plastik yang kini banyak dikeluhkan oleh pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Kalau plastik itu masuk dalam packaging (kebutuhan kemasan). Nanti kita lihat aja,”
jelasnya.
Sebelumnya, Hasan pedagang plastik di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan mengatakan bahwa dagangannya sudah mulai sepi karena harga plastik hingga styrofoam seluruhnya mengalami kenaikan.
Ia mengatakan, kenaikan ini terjadi dua pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kantong plastik merah hingga putih naik rata-rata Rp6.000 hingga Rp10.000 per kemasan. Untuk kenaikan terbesar, ada di angka Rp20.000.
Kantong-kantong naik per Rp10 ribu, ada yang naik Rp6.000. Kalau yang paling gede aja naiknya Rp20 ribu lebih yang ukuran 50, dari harga Rp33 ribu sekarang Rp58 ribu,”
jelasnya.
Hasan menuturkan, untuk harga kantong plastik hitam tidak mengalami kenaikan signifikan. Tetapi, untuk gelas plastik naik Rp4.000 menjadi Rp18 ribu.
Kalau kantong plastik yang hitam nggak terlalu banyak naiknya, paling banyak yang merah, putih, bening, gelas. Gelas-gelas dari Rp14 ribu sekarang Rp18 ribu isinya tetep sama 50,”
katanya.
Ia mengungkap, beberapa jenis barang yang dijualnya mengalami kelangkaan seperti thinwall bulat hingga kotak. Menurutnya, jika barang tersedia harga tidak masuk akal.
Dia harganya naik, barangnya susah dari habis lebaran udah dua kali pengiriman tuh, itu aja saya nggak dapet barang. Itu aja (thinwall) saya cuman dapat sekali pengiriman doang. Harga nggak masuk akal, sekarang dari Rp15 ribu ke Rp18 ribu, paling parah kotak-kotak thinwall dari Rp21 ribu ke Rp30 ribu ribu,”
ujarnya.



