Konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat–Israel vs Iran tak hanya berdampak pada lonjakan harga energi global, tetapi juga berpotensi memicu krisis berantai di dalam negeri.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia dinilai menghadapi ancaman yang lebih luas dari sekadar ketergantungan impor energi, yakni potensi gejolak sosial hingga tekanan politik akibat terganggunya pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Pengamat politik internasional, Edwin Tambunan, mengungkapkan dampak konflik Timur Tengah bisa menjalar ke berbagai sektor jika tidak diantisipasi pemerintah sejak dini. Menurutnya, gangguan distribusi energi dapat menjadi pemicu awal krisis yang lebih besar.
Masalahnya bukan hanya pasokan energi, tetapi efek lanjutannya. Ketika BBM langka, aktivitas ekonomi terganggu, harga naik, dan itu bisa memicu keresahan sosial,”
ujarnya kepada owrite.id, Selasa, 7 April 2026
Ia menjelaskan, selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, kapasitas cadangan energi nasional dinilai belum memadai untuk menghadapi gangguan suplai dalam jangka panjang.
Dengan kondisi tersebut, ketahanan energi Indonesia berada dalam posisi rentan jika jalur distribusi global terganggu, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Kelangkaan BBM Bisa Ciptakan Kepanikan dan Krisis Politik
Lebih jauh, Edwin mengingatkan bahwa dampak krisis energi tidak berhenti pada sektor ekonomi. Kelangkaan BBM berpotensi memicu kepanikan di masyarakat, yang dalam skenario terburuk dapat berkembang menjadi tekanan terhadap pemerintah.
Krisis energi bisa berubah menjadi krisis ekonomi, lalu berkembang menjadi krisis politik. Ini yang harus diantisipasi,”
tegasnya.
Menurutnya, kebijakan jangka pendek seperti menahan harga BBM tanpa diimbangi pengelolaan konsumsi dan pasokan hanya akan menunda masalah. Jika rantai pasok terganggu lebih lama, kebijakan tersebut berisiko tidak berkelanjutan.
Perlu Dua Solusi Jitu
Untuk meredam potensi krisis, pemerintah dinilai perlu segera mengambil langkah strategis, mulai dari memperkuat cadangan energi nasional hingga memperluas sumber impor dari negara lain di luar kawasan konflik.
Selain itu, program penghematan energi juga dinilai krusial untuk menekan konsumsi di tengah ketidakpastian global.
Penghematan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga untuk menjaga stabilitas. Kalau tidak diatur, dampaknya bisa meluas ke mana-mana,”
kata Edwin.
Di tengah situasi global yang belum menentu, kesiapan pemerintah dalam mengelola krisis energi dinilai akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas nasional. Jika tidak, konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia bisa berujung pada tekanan nyata di dalam negeri.




