Harga kedelai kini mengalami kenaikan akibat perang yang terjadi di Timur Tengah. Akibatnya, para pengrajin sudah mengurangi volume, bahkan menaikkan harga tahu dan tempe.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo mengakui saat ini para pengrajin sudah mulai mengurangi ukuran tahu akibat kenaikan harga kedelai.
Iya betul (pengurangan ukuran tahu dan tempe) dari lebar tinggi itu akan berkurang pastinya itu terjadi begitu. Tapi kalau kenaikan itu sangat jarang teman-teman pengrajin itu sangat takut kalau naik orang lari gitu, mending ada barang tapi kecil gitu,”
ujar Wibowo saat dihubungi owrite Rabu, 8 April 2026.
Wibowo mengatakan, kenaikan harga kedelai impor saat ini sekitar Rp900 per kilogram (kg). Tercatat pada akhir Desember 2025 harga kedelai impor sebesar Rp 9.250 per kg, namun per akhir Maret 2026 sebesar Rp10.150 per kg.
Jadi kalau terdampak sudah pasti terdampak, karena kita ini kan kedelainya hampir 98 persen kita ini impor,”
tuturnya.
Wibowo mengakui, tekanan bagi para pengerajin tahu dan tempe saat ini bukan hanya berasal dari kedelai impor. Namun, kenaikan harga plastik yang menjadi barang pendukung juga memberikan tekanan.
Jadi karena tahun ini kedelai dan plastik sebenarnya berkaitan, karena plastik kan menjadi bahan pendukung untuk membungkusnya. Jadi kedelai dan plastik ini tahun 2026 ini mengalami tekanan yang cukup hebat lah karena eskalasi politik ini yang tidak menentu,”
ujar Wibowo.
Harga Kedelai Naik Rp3.000/Kg
Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat Gakoptindo, Aip Syarifuddin mengatakan kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak Maret 2026 akibat perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel. Kenaikan harga kedelai hingga sebesar Rp3.000.
Jadi harga kedelai itu kan datangnya itu bertahap itu ya, sehingga kenaikannya juga bertahap. Dan sekarang ini bukan kedelai saja yang naik dari Rp8.000 menjadi Rp11.000, tapi juga plastiknya juga naik 100 persen dan itu semua akibat daripada perang ini,”
ujar Aip kepada owrite.
Aip menjelaskan, Indonesia melakukan impor kedelai dari Amerika, Brasil, Argentina, dan Kanada. Untuk bisa mencapai Indonesia, kapal-kapal tersebut harus melalui Selat Hormuz.
Kalau tidak mau melalui Selat Hormuz, dia masih keliling lewat Afrika dan ongkosnya akhirnya jauh lebih mahal lagi,”
jelasnya.
Akibat dari kondisi ini, Aip mengatakan saat ini harga tahu dinaikkan dan ukurannya diperkecil. Langkah memperkecil ukuran ini dilakukan agar harga tidak melonjak tinggi.
Dua-dua sekarang ini mulai harga dinaikkan dan ukuran diperkecil, supaya naiknya tidak terlalu signifikan. Kenaikan itu tergantung daripada daerah, provinsi. Jadi misalnya, kalau ini pabriknya itu ada di Aceh dia akan jual di Aceh atau di Medan, tidak mungkin dia bawa ke Jakarta atau ke Jawa Tengah,”
paparnya.
Menurut Aip, harga kedelai bisa saja terus naik ke depannya, bila kondisi geopolitik di Timur Tengah tidak juga berubah. Hal ini karena dalam setahun Indonesia membutuhkan kedelai sebanyak 3,5 juta ton.
Ya tergantung perang ini, kenapa? Karena Indonesia ini butuh kedelai 1 tahun itu kira-kira 3,3 atau 3,5 juta ton 1 tahun kedelai. Sedangkan produksi dalam negeri cuma 10 persen, 90 persennya itu impor,”
tuturnya.


