Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam menekan angka stunting di Indonesia.
Melalui penyediaan asupan gizi yang lebih merata, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan, program ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas kesehatan sejak dini.
Menurut data terakhir Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali mempublikasikan capaian data Triwulan III 2025, angka stunting di Indonesia turun 20,1 persen menjadi 19,8 persen, atau turun sekitar 2,7 persen.
Target 2026 adalah menurunkan angka dari 19,8 persen menjadi 18,8 persen, dengan penurunan rata-rata per tahun sekitar 1,2 persen.
Namun, Perwakilan Aliansi Ibu Indonesia, Anette Mau mengatakan, dalam astacita memang dikatakan bahwa program MBG ini untuk menekan atau mengatasi problem stunting di Indonesia yang masih tinggi, tetapi justru ia menilai Presiden Prabowo Subianto gagal memahami apa itu stunting.
Pasalnya, stunting intervensinya harus seribu hari pertama kehidupan, jadi bukan setelah anak-anak mencapai sekolah.
Masalah stunting itu dimulai di seribu hari pertama kehidupan, sehingga akhirnya yang perlu diintervensi adalah gizi ibu hamil bagaimana bisa mendapatkan nutrisi yang cukup,”
ujar Anette kepada owrite.
Selain itu, ia juga memberi perhatian terhadap daerah-daerah di luar Pulau Jawa atau 3T (tertinggal, terdepan, terluar) karena infrastruktur jalan raya yang sangat buruk sehingga ibu hamil tidak bisa periksa di puskesmas. Hal itu yang harusnya menjadi salah satu elemen utama agar stunting ini bisa ditekan.
Jadi, ibu hamil yang selama 9 bulan kehamilannya itu nggak periksa ke puskesmas, nggak dapat makanan bergizi, nggak dapat vitamin, nggak dapat panduan bagaimana cara melahirkan dengan sehat, bagaimana bertumbuh dengan sehat, merawat bayi yang baru lahir, justru itu yang harus diintervensi,”
tuturnya.
Anette menegaskan, bahwa sampai saat ini program MBG salah sasaran.



