Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) membeberkan dugaan identitas dan peran dari 16 pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Peneliti Independen, Ravio Patra, mengungkap kenyataan dan fakta-fakta yang sebenarnya tentang kasus aksi terorisme, percobaan pembunuhan berencana, dan juga penganiayaan berat yang dialami oleh Andrie Yunus.
Beberapa temuan-temuan tersebut dasari terutama pada beberapa hal, termasuk rekaman-rekaman CCTV yang berhasil ditemukan, yang diperoleh menggunakan pemetaan terbalik.
Ravio menunjukkan kronologi dari belakang sampai ke beberapa jam sebelum terjadi aksi teror dan upaya pembunuhan terhadap Andri Yunus.
Ravio mengelompokkan peran sejumlah pelaku menjadi tim eksesukasi, terdiri dari OTK1-OTK5, tim pengintai jarak dekat OTK6-OTK10, tim komando OTK11-OTK13, dan tim pengintai jarak jauh OTK14-OTK16.
Dalam kesempatan itu, TAUD juga menampilkan wajah terduga pelaku penyiraman air keras tersebut.
Jadi ada 16 OTK, kami bagi menjadi empat kelompok. Yang pertama adalah kelompok eksekusi: 1, 2, 3, 4, 5. Nanti kita akan lihat. Kedua adalah kelompok pengintai jarak dekat: 6, 7, 8, 9, 10. Tim komando kami curigai adalah orang-orang yang bertugas mengoordinasikan di lapangan, serta pengintai jarak jauh: 14, 15, 16,”
ujar Ravio.
Sementara itu, Anggota Tim TAUD , Gema Gita menekankan dengan temuan yang dihimpun,
ada terduga pelaku 16 pelaku lapangan yang kemungkinan besar itu melibatkan sipil di dalamnya maka sudah semakin menjadi kewajiban lagi dari pihak kepolisian untuk terus mengusut tuntas kasus ini, bukan hanya kepada 16 terduga pelaku, tapi juga kepada aktor intelektualnya.
Pasalnya 16 orang yang berkonsolidasi di lapangan di hari H kejadian itu sudah bersama, jadi tidak mungkin jika tidak ada yang mengkoordinasikan, tidak mungkin jika tidak ada perintah langsung dan direncanakan secara sistematis dan terstruktur sebelumnya.
Jadi ya harapannya ini bisa semakin terang dan transparan lagi meskipun ini sudah hampir satu bulan dari kejadian tapi tidak pernah sekalipun pihak-pihak yang menyatakan bahwa proses penanganannya sudah berjalan,”
kata Gema.
Pasalnya Gema mengatakan hingga saat ini belum pernah memunculkan identitas sehingga publik bahkan kuasa hukum tidak diberitahukan secara resmi sudah sejauh mana proses perkembangan kasus tersebut.
Kami juga tidak dapat memastikan apakah yang dalam tanda kutip diamankan oleh POM pada saat itu yang kemudian sekarang sudah dilimpahkan ke Oditurat itu adalah orang yang sama dengan yang pihaknya lihat melakukan serangan terhadap Andrie Yunus. Bahkan sespesifik dan seteknis itu pun kami belum dapat memastikan apakah orangnya sama dengan yang ada di video yang beredar,”
tandasnya.



