Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Minggu, 7 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • iran
  • MBG
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / (Part I) Krisis Tutup Mulut Kritis: Kritik dari Kritikus Dibalas Kriminalisasi
Nasional

(Part I) Krisis Tutup Mulut Kritis: Kritik dari Kritikus Dibalas Kriminalisasi

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: April 21, 2026 11:35 am
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi pembungkaman kritik
Gambar ilustrasi pembungkaman kritik (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Sepanjang April 2026, gelombang kriminalisasi kebebasan akademik mengguncang demokrasi Indonesia. Tiga intelektual publik Ubedilah Badrun, Saiful Mujani, dan Feri Amsari dilaporkan kepada penyidik Polda Metro Jaya oleh kelompok relawan. 

Daftar isi Konten
  • Bhayangkara Wajib Lindungi Ruang Demokrasi 
  • Prioritas Restoratif

Tuduhan kepada mereka pun beragam: ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan delik penghasutan makar. Pelaporan kepada mereka hanya berjarak hitungan hari. Nalar kritis dan tinjauan keilmuan menjadi buram lantaran hak berpendapat warga negara dibalas dengan represi instrumen hukum. 

Ubedilah Badrun pun merespons perihal pelaporan terhadap dirinya yang dilakukan oleh Koordinator Pemuda Garda Nusantara Rangga Kurnia Septian. 

Pelaporan atas dugaan ujaran kebencian karena Ubedilah menyebut Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai beban bangsa dalam sebuah siniar. 

Soal laporan itu sebenarnya saya (merasa) aneh. Kok bisa ada laporan semacam itu di tengah memburuknya demokrasi Indonesia, di tengah citra buruk Indonesia di mata internasional,” 

kata dia kepada Owrite.id, Senin, 20 April 2026.

Ubedilah berpendapat pelaporan tersebut memperburuk kualitas dan indeks demokrasi Indonesia, karena laporannya perihal ujaran kebencian.

Ia merasa berbicara dalam siniar sebuah media resmi tentang pemerintahan Prabowo-Gibran adalah bentuk kritis warga negara terhadap pemerintah.

Semua berbasis data dan keilmuan, tidak ada ujaran kebencian sama sekali, dan ia mengklaim pernyataannya merupakan hak berpendapat yang dijamin konstitusi. 

Jadi podcast media resmi itu produk jurnalistik. Jika ada masalah dengan produk jurnalistik lazimnya dibawa ke Dewan Pers bukan dilaporkan kepada kepolisian,”

ucap Ubedilah. 

Hingga saat ini Ubedilah mengaku belum ada kelanjutan dari pelaporan tersebut, misalnya pemanggilan dari penyidik agar dia memberikan keterangan dalam tahap pemeriksaan. 

Pelaporan-pelaporan yang tidak berdasar, bagi Ubedilah, menunjukkan upaya pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi dan undang-undang. 

Jika kritik terhadap praktik kekuasaan dibalas dengan laporan kepada polisi, artinya kebebasan sipil di Indonesia telah terancam. Praktik semacam itu justru merusak demokrasi dan karenanya memperburuk citra Indonesia di mata internasional. 

Dalam podcast Forumkeadilan TV, saya mengatakan bahwa Prabowo-Gibran itu beban bangsa, sebab rezim ini hakikatnya sama saja dengan rezim sebelumnya yang mewariskan beban masalah yang sangat banyak dan kompleks, mulai dari utang ribuan triliun hingga korupsi yang merajalela tentu menjadi beban negara, beban APBN. Bukankah beban bunga Rp600 triliun per tahun itu beban?”

ujar dia.

Kritik kepada Prabowo-Gibran bahwa mereka beban bagi bangsa merupakan kritik pada tubuh politik mereka, bukan kepada personal tubuh biologis mereka.

Rezim saat ini, menurut Ubedilah, sejak awal membawa cacat bawaan yaitu dari proses awal yang publik menyebutnya sebagai ‘anak haram konstitusi’ yang jadi Cawapres dan Capres yang punya masa lalu kelam soal HAM. 

Itu beban yang membuat sulitnya kepercayaan internasional terhadap rezim ini. Apalagi kebijakan Prabowo-Gibran dalam 1,5 tahun ini banyak menimbulkan masalah dan beban, antara lain:

  1. Utang bertambah;
  2. Buruknya tata kelola Makan Bergizi Gratis;
  3. Pengadaan barang untuk Koperasi Merah Putih;
  4. Pengurangan transfer dana ke daerah;
  5. Korupsi yang masih terus terjadi;
  6. Bergabungnya Indonesia ke dalam Board of Peace bersama Amerika dan Israel tanpa didahului persetujuan DPR;
  7. Menyetujui Agreement on Reciprocal Trade yang banyak merugikan Indonesia, dan lain-lain. 

Bahwa Prabowo-Gibran adalah tubuh publik sebagai Presiden dan Wakil Presiden, mereka pejabat publik, pejabat negara. Saya sebagai warga negara berhak dan dijamin konstitusi untuk berpendapat dan mengkritik kekuasaan,”

kata Ubedilah. 

Pelaporan terhadap Ubedilah dilayangkan pada 13 April 2026, dengan nomor registrasi LP/B/2560/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. 

Bhayangkara Wajib Lindungi Ruang Demokrasi 

Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar berpendapat, Polri harus lebih selektif dan berani menolak laporan yang terindikasi mengada-ada, serta berpotensi melemahkan mekanisme demokrasi Indonesia. 

Penegak hukum harus tegas, walaupun melayani masyarakat itu menjadi kewajiban penegak hukum atau kepolisian, tetap juga harus selektif. Laporan yang mengada-ada sebaiknya ditolak,”

kata Fickar kepada Owrite.id. 

Polisi bisa menolak dengan mekanisme Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atau sejak awal polisi bisa menjelaskan kepada pelapor bahwa dugaan tindak pidana yang dilaporkan merupakan bagian dari berdemokrasi. Artinya, sejak awal pun polisi berwenang memutus rantai kriminalisasi. 

Ia juga menyorot polemik kedudukan hukum (legal standing) pihak pelapor. Dalam kasus-kasus pelaporan terhadap akademisi tersebut, pelapor bukanlah pihak yang dikritik langsung seperti presiden atau pejabat negara, melainkan pihak pendukung. 

Penegak hukum kerap sulit menolak laporan dari kelompok pendukung lantaran konstruksi pasal yang disertakan merupakan delik umum, bukan delik aduan.

Maka, aparat wajib memproses laporan delik umum, karena siapapun berhak melapor. Berbeda dengan delik aduan, pelapor ialah korban langsung, bukan atas nama ormas. 

Delik aduan itu (seperti tindakan) pencemaran nama baik, (sementara) hasutan atau makar itu delik umum, sulit penegak hukum mengelaknya. Dalam delik umum itu semua orang punya legal standing. Namun, yang mengharuskan korban melapor sendiri itu delik aduan,” 

ucap Fickar.

Kemudian, Fickar menilai perlu ada intervensi pengawasan dari parlemen dalam perkara-perkara ini. Anggota DPR dapat memanggil Kapolri guna mengevaluasi laporan yang mengancam kebebasan akademik dan kebebasan sipil. 

Itu menjadi tugasnya DPR, tapi sayangnya DPR kurang responsif,”

lanjut dia. 

Prioritas Restoratif

Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Uli Parulian Sihombing buka suara untuk pelaporan-pelaporan tersebut.

Ia berpendapat, kepolisian dapat mengedepankan pendekatan keadilan restoratif dalam merespons aduan dan para intelektual yang terjerat pun sebaiknya tidak berujung pada pemenjaraan. 

Saran saya pelaporan terhadap akademisi atau pakar kepada (pihak) Polda Metro Jaya diselesaikan melalui mekanisme keadilan restoratif sesuai dengan KUHAP baru,”

kata dia kepada Owrite.id. 

Para pelapor kerap menjadikan salah satu pasal, yaitu dugaan penghasutan, secara formil memenuhi syarat untuk diselesaikan melalui upaya keadilan restoratif. Sebab hukumannya di bawah 5 tahun kurungan. 

Pasal 246 Ayat (1) KUHP soal penghasutan itu ancaman maksimal 4 tahun. Salah satu syarat keadilan restoratif menurut Pasal 80 Ayat (1) ancaman hukuman maksimal 5 tahun,”

Pernyataan Komnas HAM menjadi sinyal penting bagi penegak hukum atas kebebasan sipil saat ini. 

Tag:feri amsariHeadlineKriminalisasikritikSaiful MujaniSpillubedilah badrun
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Trending di OWRITE
Izin Dipersulit, Duit Melejit: Catatan ICW Soal Kasus Silmy Karim
By Adi Briantika
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim (tengah) tiba untuk menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
1
Netanyahu Diam-diam Kirim Intelijen ke Pemerintah Trump, Hubungan AS-Israel Retak?
By Natania Longdong
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
2
Teddy Banjir Kritik, Pejabat Bertumbangan Diciduk! Kebetulan atau Ada yang Panik?
By Rahmat Tunny
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya (kanan) berbincang dengan calon siswa saat meninjau bakal Sekolah Rakyat di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Adminstrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN), Penjompongan, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Peninjauan tersebut untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana bakal Sekolah Rakyat yang menampung sebanyak 100 siswa dari keluarga tidak mampu untuk memperoleh pendidikan dengan lingkungan berkualitas. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
3
Beda Selera DPR vs Pemerintah dalam RUU Polri: Satu Minta Buka Pintu, Satu Minta Mundur
By Rika Pangesti
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas (kedua kiri) bersama Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto (kiri) menyerahkan pandangan presiden kepada Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (ketiga kanan), Wakil Ketua Komisi III DPR Dede Indra (kanan), Rano Alfath (kedua kanan) dan Ahmad Sahroni (ketiga kiri) saat rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
4
Rakyat Diminta Hemat, BGN Malah Gelar Acara Mewah Hingga Makan Anggaran Rp55 Miliar
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto bersama pemilik SPPG di seluruh Indonesia. Doc: IG SetnegRI
5

BERITA LAINNYA

Perajin membuat kerajinan topi kuluk manten di Sambon, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (19/5/2026). Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencatat realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 17 Mei 2026 mencapai Rp105,8 triliun atau 35,8 persen dari target tahun ini yang disalurkan kepada 1,69 juta debitur. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Nasional

Aturan Pajak Baru Dikritik, UMKM yang Tumbuh Justru Dihukum

Penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Natania Longdong
Amin Suciady
2 jam lalu
Ilustrasi Petugas PLN saat mengecek meteran Listrik
Nasional

Marak Kebakaran Akibat Korsleting, ESDM Wajibkan Pengaman Listrik Baru

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menggodok aturan, yang mewajibkan…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Natania Longdong
Amin Suciady
5 jam lalu
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim (tengah) tiba untuk menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Nasional

Izin Dipersulit, Duit Melejit: Catatan ICW Soal Kasus Silmy Karim

Kepala Divisi Hukum dan Investigasi Indonesia Corruption Watch (ICW) Wana Alamsyah merespons…

owrite-adi-briantika
By
Adi Briantika
23 jam lalu
Foto Paulus Tannos (kiri) yang telah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO) sejak 19 Oktober 2021 saat ditampilkan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, di Gedung Juang, Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Nasional

Agustus 2026 Jadi Bulan Penentuan: Akankah Paulus Tannos Pulang ke Nusantara?

Upaya hukum buron kasus mega korupsi KTP elektronik, Paulus Tannos, untuk menggagalkan…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteowrite-adi-briantika
By
Rahmat Baihaqi
Adi Briantika
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up