Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 22 Apr 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • DPR
  • Spill
  • iran
  • BMKG
  • Banjir
  • sumatera
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Bank Indonesia Diramal Tahan BI Rate Gegara Harga BBM Nonsubsidi Naik
Ekonomi Bisnis

Bank Indonesia Diramal Tahan BI Rate Gegara Harga BBM Nonsubsidi Naik

Nisa-OWRITEdusep-malik
Last updated: April 22, 2026 9:53 am
Anisa Aulia
Dusep
Share
Gedung Bank Indonesia.
Gedung Bank Indonesia. (Sumber: Dok. BI)
SHARE

Bank Indonesia (BI) diproyeksi, akan kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Keputusan ini dilakukan karena konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi milik Pertamina.

Daftar isi Konten
  • Tiga Alasan Tahan BI Rate
  • Ruang BI Rate Turun Tertutup

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, saat ini prioritas utama kebijakan Bank Sentral adalah mengarah pada stabilitas rupiah, bukan menambah pelonggaran. 

BI diperkirakan kembali menahan suku bunga pada April dan selama tekanan eksternal belum mereda, akan sulit bagi BI untuk memangkas suku bunga. Meski pasar global pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama masih bertahan, ketenangan itu belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,”

ujar Josua saat dihubungi Owrite.id.

Tiga Alasan Tahan BI Rate

Josua menjelaskan, ada tiga penyebab BI menahan suku bunga, alasan pertama karena kondisi eksternal. Saat ini pasar sedang menakar perdamaian yang belum pasti dengan risiko dua arah tetap besar, sedangkan BI tetap harus memprioritaskan stabilitas rupiah. 

Ini penting karena bahkan setelah muncul optimisme soal perundingan dan perpanjangan gencatan senjata, dolar dan harga minyak memang sempat melemah, tetapi sifatnya masih rapuh dan sangat bergantung pada berita harian,”

tuturnya.

Rupiah sendiri pada 16 April 2026 ada di level Rp17.127 per dolar AS. Kondisi ini kata Josua, menekankan bahwa dolar AS memang tertekan tetapi perkembangan perang dan arah kebijakan global masih bisa cepat mengubah sentimen. 

Jadi dari sudut pandang BI, memangkas suku bunga di tengah ketidakpastian seperti ini akan terlalu berisiko karena dapat memperlemah bantalan terhadap rupiah pada saat pasar belum benar-benar stabil,”

tuturnya.

Alasan kedua adalah faktor inflasi energi. Josua menilai, kenaikan harga energi termasuk BBM nonsubsidi mendukung keputusan BI untuk menahan suku bunga, meskipun kenaikan BBM nonsubsidi bukan satu-satunya alasan.

Dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi April memang cenderung terbatas karena yang naik hanya segmen tertentu dan pangsa volumenya kecil,”

katanya.

Namun demikian, Josua menuturkan bahwa BI tidak hanya melihat dampak langsung satu bulan, melainkan dampak tidak langsung ke ekspektasi inflasi, biaya logistik, biaya produksi, dan inflasi impor jika rupiah tetap tertekan. 

Ruang penurunan BI Rate pada 2026 praktis habis bila rata-rata harga minyak mencapai US$80 dan rupiah mendekati Rp17.000. Jadi, kenaikan BBM nonsubsidi sendiri belum otomatis memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas membuat BI makin sulit untuk memangkasnya sekarang,”

jelasnya.

Alasan ketiga jelas Josua, saat ini kondisi domestik belum cukup lemah untuk menuntut Bank Sentral segera melakukan pelonggaran. Pasalnya, inflasi inti pada Maret 2026 menurun, keyakinan konsumen masih kuat dengan IKK 122,9, penjualan ritel masih tumbuh, dan PMI manufaktur berada di zona ekspansi.

Artinya, ekonomi domestik memang mengalami moderasi, tetapi belum masuk kondisi yang memaksa BI harus buru-buru menurunkan suku bunga demi menyelamatkan pertumbuhan. Justru karena konsumsi dan aktivitas domestik masih punya bantalan, BI punya ruang untuk menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama,”

tuturnya.

Menurut Josua, di situasi saat ini BI lebih mungkin menggunakan bauran kebijakan lain untuk menopang pertumbuhan, sembari mempertahankan suku bunga acuan.

Ruang BI Rate Turun Tertutup

Lebih lanjut, Josua memandang bahwa ruang Bank Indonesia untuk memangkas BI Rate semakin tertutup. Ke depan BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Ruang penurunan suku bunga pada 2026 telah sangat berkurang, dan BI diperkirakan harus mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk jangka yang lebih panjang demi menjaga rupiah,”

katanya.

Ia menilai, selama tekanan dari harga energi, risiko geopolitik, pelemahan rupiah, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, dan premi risiko Indonesia masih tinggi. Maka BI perlu menjaga tingkat suku bunga agar daya tarik aset rupiah tidak turun terlalu cepat. 

Suku bunga yang dijaga saat ini juga membantu menjaga selisih imbal hasil dengan negara lain, menahan arus keluar modal, dan menambatkan ekspektasi inflasi,”

imbuhnya.
Tag:Bank IndonesiaBBM NonsubsidiBI rateDolar ASHarga BBMRDG BIRupiah
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Ekonomi dan Bisnis.
dusep-malik
ByDusep
Redaktur
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (sumber: owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Ngaku Tak Tahu-Menahu Soal Rencana Pengenaan Pajak Jalan Tol, Kok Bisa? 

Rencana pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas jasa jalan tol kini tengah memanas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku, belum menerima laporan dan akan memeriksa mengenai rencana pemungutan pajak tersebut.…

By
Anisa Aulia
Dusep
2 Min Read
Situasi Tambang Nikel di Indonesia. (Sumber: Yayasan Indonesia Cerah)
Ekonomi Bisnis

Di Balik Kejayaan Nikel RI Ada Tekanan Global yang Mengintai, Apa Itu?

Indonesia menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia, yang memiliki peran penting dalam rantai pasok global. Posisi ini membuat Indonesia harus berhadapan dengan dinamika kebijakan, baik dari dalam negeri…

By
Iren Natania
Dusep
3 Min Read
KPK menetapkan Bupati Pati tersebut sebagai tersangka dengan barang bukti berupa uang senilai Rp2,6 miliar. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Hukum

Ternyata Ini Peran Sudewo dalam Proyek Korupsi DJKA

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap keterlibatan Sudewo ketika ia menjabat sebagai anggota Komisi V DPR dalam kasus dugaan korupsi Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan di wilayah Jawa Timur. Campur…

By
Rahmat
Adi Briantika
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Cikampek Utama, Karawang, Jawa Barat.
Ekonomi Bisnis

DJP Mau Pungut Pajak Jalan Tol, YLKI: Ngawur dan Pindahin Beban Negara ke Rakyat

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menolak wacana pengenaan pajak terhadap jasa jalan…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
57 menit lalu
Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan strategis di dunia. (Sumber: Google Maps)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Soroti Peluang Pajak Kapal di Selat Malaka: Punya RI Jalurnya Paling Besar

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bicara, terkait pengenaan pajak terhadap kapal yang…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
1 jam lalu
Ilustrasi Tambang Martabe di Batang Toru, Sumatera Utara.
Ekonomi Bisnis

Sempat Disetop Desember 2025, Tambang Emas Martabe Beroperasi Lagi Mei Mendatang

Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR) akan kembali beroperasi…

iren natania longdongdusep-malik
By
Iren Natania
Dusep
2 jam lalu
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Tol Trans Jawa ruas Srondol-Jatingaleh, Semarang, Jawa Tengah
Ekonomi Bisnis

DJP Berencana Kenakan PPN Jalan Tol pada 2028, Tujuannya Apa?

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana, memungut Pajak Pertambahan Nilai…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
3 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up