Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan, kenaikan harga plastik telah berimbas terhadap harga pangan pokok strategis secara nasional. Tercatat komoditas gula dan beras sudah mulai mengalami kenaikan harga karena kondisi ini.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pihaknya telah mengkalkulasi posibilitas penyesuaian harga pangan apabila harga plastik semakin bergejolak.
Terkait plastik, tentu kami sudah beberapa kali rapat dengan stakeholder, termasuk pelaku beras, gula, dan beberapa pelaku pangan kemasan, memang agak berpengaruh tatkala ada goncangan geopolitik di Timur Tengah,”
ujar Ketut dalam keterangannya Kamis, 23 April 2026.
Dampak Langsung ke Harga Beras dan Gula

Ketut menjelaskan, berdasarkan hitung-hitungan secara kasar untuk komoditas beras ada dampak sebesar Rp300 per kilogram (kg), dan gula sebesar Rp150 per kg.
Memang kita sudah menghitung secara kasar, di beras itu hampir sekitar Rp300 per kilogram dampaknya. Tapi di gula relatif lebih sedikit, sekitar Rp100 sampai Rp150. Itu pun masih kasar, belum kami hitung detail, mungkin bisa lebih rendah dari itu,”
katanya.
Ketut menuturkan, untuk memitigasi fluktuasi bahan baku plastik, pemerintah sudah melakukan pencarian sumber pasokan baru. Ia mengharapkan titik terang segera ditemukan.
Sekali lagi, pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya-upaya tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, relatif problem kekurangan pasokan bahan baku plastik ini bisa diselesaikan dengan baik. Kita percayakan dulu kepada teman-teman di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian juga,”
kata Ketut.
Pemerintah dan Pelaku Usaha Cari Alternatif Pasokan
Selain pemerintah, para pelaku usaha yang bergerak sebagai produsen plastik juga bergerak beriringan untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik. Kemungkinannya memang menyasar peluang ke negara produsen minyak bumi.
Semua bergerak langkah, pelaku usaha kan tidak diam, dia akan mencari dan sudah akan berusaha mencari peluang-peluang tadi. Apakah dari Rusia atau negara lain selain Timur Tengah. Produsen-produsen minyak itu, itulah penghasil sumber-sumber pasokan plastik sebenarnya,”
jelasnya.
Berdasarkan pantauan Bapanas, harga gula konsumsi secara nasional dalam sebulan terakhir mengalami kenaikan sekitar 1,94 persen, dari Rp18.412 per kg menjadi Rp18.770 per kg per 20 April.
Namun, proyeksi produksi gula kristal putih dalam negeri diperkirakan meningkat signifikan dari 58,3 ribu ton menjadi 276,4 ribu ton pada April–Mei, sehingga berpotensi meredam kenaikan harga.
Kenaikan Harga Masih Terkendali, tapi Perlu Diwaspadai
Sedangkan rata-rata harga beras medium dalam sebulan terakhir berfluktuasi hanya di 0,29 persen dan beras premium di 0,37 persen. Rerata harga beras medium secara nasional sebulan lalu berada di Rp 13.378 per kg menjadi Rp 13.417 per kg per 20 April. Untuk beras premium, dari Rp 15.640 per kg ke Rp 15.698 per kg.
Sementara itu, hingga minggu ketiga April, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengidentifikasi penyebab terjadinya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai daerah. Pada komoditas gula yang membutuhkan kemasan berbahan baku plastik, BPS melaporkan memperlihatkan IPH yang mulai menanjak.
Gula pasir, kemarin itu (minggu kedua April) 153 kabupaten kota (kenaikan IPH), sekarang (minggu ketiga April) menjadi 171 kabupaten kota,”
jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono.
Terkait dengan gula pasir tersebut, kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik, karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir,”
sambungnya.
Terkait kenaikan IPH gula konsumsi sampai minggu ketiga April tersebut, dalam analisis Bapanas, dari 171 daerah yang mengalami kenaikan IPH, masih terdapat 36 daerah yang memang naik IPH tapi tidak melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).



