Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 akhirnya membuka peluang bagi Timnas Iran untuk tampil di turnamen tersebut.
Namun, keikutsertaan Iran tidak sepenuhnya bebas karena ada sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi.
Menjelang pelaksanaan turnamen, partisipasi Iran sempat dipertanyakan akibat konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Situasi ini bahkan membuat Donald Trump sebelumnya sempat melarang kehadiran tim berjuluk Team Melli tersebut.
Padahal, Iran dijadwalkan memainkan pertandingan fase grup di wilayah AS, termasuk di California dan Seattle.
Tim nasional sepak bola Iran dipersilakan datang ke Piala Dunia. Tetapi, saya rasa tidak pantas kalau mereka datang ke AS, untuk kehidupan dan keselamatan mereka sendiri”
tulis Trump dalam akun di media sosialnya, Truth Social.
Syarat Khusus dari Pemerintah AS
Seiring waktu, sikap pemerintah AS mulai melunak. Marco Rubio menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah melarang Timnas Iran untuk bertanding.
Namun, ada pembatasan terhadap individu tertentu yang berkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Tidak ada pemberitahuan dari AS yang mengatakan bahwa mereka (Iran) tidak boleh datang. Masalah dengan Iran bukanlah para atlet, tetapi beberapa orang lain yang ingin mereka bawa, beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan IRGC,”
ujar Rubio.
Kami mungkin tidak bisa mengizinkan mereka masuk (ke AS). Mereka mungkin memutuskan untuk tidak datang sendiri, tetapi mereka tidak bisa membawa sekelompok teroris IRGC ke negara kami dan berpura-pura menjadi jurnalis serta pelatih,”
tambahnya.
FIFA Tegaskan Iran Harus Tetap Tampil
Sementara itu, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa Iran tetap wajib berpartisipasi di Piala Dunia 2026. Bahkan Infantino tetap ingin Iran bermain di AS.
Kami berharap pada saat itu, tentu saja, situasinya akan damai, itu pasti akan membantu. Tetapi Iran harus datang, tentu saja. Mereka mewakili rakyat mereka. Mereka telah lolos kualifikasi. Para pemain ingin bermain. Mereka harus bermain (karena) olahraga (sepak bola) seharusnya berada di luar politik,”
ujar Infantino.
Kita memang tidak tinggal di bulan, kita tinggal di Bumi. Jika tidak ada orang lain yang percaya dalam membangun jembatan dan menjaganya tetap utuh dan bersatu, maka kita melakukan itu,”
tambahnya.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa hubungan antara olahraga dan politik sulit dipisahkan.
Meski demikian, FIFA tetap berupaya menjaga prinsip bahwa sepak bola harus menjadi alat pemersatu, bukan ajang konflik.
Dengan waktu yang semakin dekat menuju turnamen, keputusan final terkait keikutsertaan Iran akan menjadi sorotan dunia.

