Pertamina resmi memperbarui harga LPG nonsubsidi per 18 April 2026. Kenaikan ini dinilai tidak hanya membebani pelaku usaha kuliner, tetapi juga memicu efek domino pada berbagai biaya produksi.
Sekjen Perkumpulan Pengusaha Kuliner Kreatif Indonesia (APKULINDO) Redia Frisna R mengatakan, kenaikan harga gas berada di kisaran 10-30 persen, angka ini dinilai menjadi beban yang sangat besar terhadap biaya produksi.
Menurutnya, margin usaha kuliner hanya di kisaran 18-25 persen. Dengan ada kenaikan harga gas LPG ini, secara tidak langsung juga memangkas keuntungan tersebut.
Saat ini saja keuntungan bersih rumah makan, restoran itu kan antara 18-25 persen ya rata-rata. Nah kalau gas ini naik, kita bisa potensi kehilangan keuntungan di 5-10 persen,”
ujar Redia kepada Owrite.id.

Biaya Operasional Tergerus
Redia juga menambahkan, kenaikan harga gas juga memiliki dampak langsung ke biaya operasional usaha, yang kemudian merambat ke biaya komponen lain seperti bahan baku hingga kemasan.
Karena yang naik nanti memang benar, bukan cuma gas nya saja, nanti si cabainya naik, si plastik sekarang sudah naik. Terus, belum kardus, kardus atau boks harga nya juga udah naik,”
tegasnya.
Kondisi ini juga membuat pelaku usaha dihadapkan pada kondisi yang sulit. Biaya produksi yang terus meningkat, membuat pelaku usaha tidak bisa serta merta menaikkan harga jual. Karena kenaikan harga yang terlalu cepat dikhawatirkan akan menurunkan daya beli konsumen.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Redia mengkhawatirkan akan ada kenaikan harga yang berantai di pasar. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada stabilitas ekonomi sektor riil.
Jadi benar makanya saya bilang bakalan chaos karena semua orang, semua pedagang lain yang mungkin harganya naik, ikut naik-naikkan juga,”
lanjut Redia.
UMKM Penggerak Ekonomi Nasional
Ia menegaskan, sektor kuliner adalah penggerak roda perekonomian nasional, terutama di level UMKM. Apabila sektor ini terganggu, dampaknya akan meluas ke berbagai lini.
Jangan ini kita tuh, UMKM ini bakalan mati bareng-bareng jadinya nanti. Kalau kita mati kan nggak ada yang beli juga, yang beli juga perekonomian nggak bergerak juga,”
katanya.
Karena itu, pemerintah diharapkan bisa menjaga stabilitas harga, khususnya LPG agar tidak semakin menekan pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.



