Kenaikan harga LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg mulai pertengahan April 2026, menjadi pertanyaan penting terhadap operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengandalkan tabung nonsubsidi untuk memasak dalam skala besar.
Lonjakan biaya energi ini memunculkan pertanyaan krusial, apakah alokasi anggaran makan harian sebesar Rp10 ribu–Rp15 ribu per porsi masih realistis untuk menutup seluruh kebutuhan produksi, termasuk bahan baku dan energi.
Seorang relawan dapur SPPG di Tuban, Jawa Timur, berinisial T, menjelaskan bahwa struktur anggaran MBG sudah dipisah secara ketat.
Untuk budget itu ada dua jenis, porsi kecil Rp13 ribu dan porsi besar Rp15 ribu. Dari situ dibagi, bahan baku sekitar Rp8 ribu–Rp10 ribu, lalu Rp3 ribu untuk operasional seperti listrik, gas, dan insentif relawan. Rp2 ribu untuk sewa tempat,”
kata laki-laki berumur 24 tahun itu pada Owrite, Sabtu, 25 April 2026.
Menurut T, kenaikan harga LPG tidak secara langsung memengaruhi kualitas menu karena pos bahan baku dan operasional sudah memiliki “plot” masing-masing.
Menu ikut anggaran bahan baku, sedangkan gas masuk ke anggaran operasional Rp3 ribu tadi,”
katanya.
Porsi Anggaran Operasional
Meski demikian, kondisi ini tetap menyisakan celah tekanan di tingkat operasional. Jika biaya gas terus meningkat, bukan tidak mungkin porsi anggaran operasional menjadi semakin sempit, yang pada akhirnya berpotensi memaksa penyesuaian di aspek lain dalam dapur MBG.
Temuan berbeda muncul dari SPPG di Bekasi. Seorang staf perempuan berinisial I mengungkapkan bahwa meski tidak ada pengurangan porsi atau kualitas gizi menu, penyesuaian tetap dilakukan untuk menjaga anggaran.
Enggak dikurangin, karena sudah ada gramasi biar gizinya terpenuhi. Cuma disesuaikan saja,”
ujarnya pada Owrite.
Ia mencontohkan, ketika menu menggunakan bahan yang lebih mahal seperti daging sapi, dapur akan mengakalinya dengan pilihan pendamping yang lebih ekonomis.
Misalnya buahnya pakai buah potong seperti semangka atau buah naga, yang jatuhnya lebih murah dibanding buah satuan,”
jelasnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga LPG belum secara langsung memangkas kualitas menu MBG, tetapi mulai mendorong dapur melakukan strategi penyesuaian di tingkat komposisi bahan.
Dalam jangka panjang, jika tekanan biaya energi terus berlanjut, bukan tidak mungkin ruang fleksibilitas berpotensi semakin sempit dan bisa menjadi tantangan bagi keberlanjutan standar menu MBG di masa depan.


