Pada Senin malam, 27 April 2026, duka kembali menyelimuti jalur kereta api Indonesia. Tabrakan berantai yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur menambah deretan panjang tragedi perkeretaapian Tanah Air.
Insiden yang dipicu oleh kecelakaan perlintasan sebidang di Bulak Kapal, kegagalan persinyalan, dan komunikasi yang terganggu ini menjadi pengingat pahit bahwa meskipun teknologi telah maju, rantai kesalahan manusia dan infrastruktur masih kerap menjadi biang keladi.
Kecelakaan kereta api di Indonesia bukanlah hal baru. Sejak masa pendudukan Jepang hingga saat ini, rel-rel besi Nusantara telah berkali-kali menjadi saksi bisu hilangnya ratusan nyawa.
Berikut adalah beberapa tragedi paling menakutkan yang membentuk sejarah kelam transportasi kereta api kita yang tim Owrite.id kutip dari berbagai sumber, Rabu, 28 April 2026.
1. Tragedi Padang Panjang 1944 – 1955
Jauh sebelum Tragedi Bintaro menggemparkan publik, Lembah Anai di Sumatera Barat telah menjadi arena dua petaka mengerikan di akhir masa pendudukan Jepang.
Jalur perbukitan yang curam dan terjal ini menjadi saksi bisu salah satu kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah Nusantara.
Pada 25 Desember 1944, sebuah rangkaian kereta kehilangan kendali karena rem blong. Kereta meluncur tak terkendali di jalur ekstrem dekat Singgalang Kariang (sekarang area rest area Lembah Anai), menewaskan sekitar 200 orang dan melukai 250 lainnya.
Dan hanya tiga bulan kemudian, tepatnya 23 Maret 1945, tragedi berulang di lokasi yang hampir sama. Kali ini jembatan putus, ada beberapa yang menyebut sebagai sabotase perang. Hal ini, menambah korban yang tak kalah mengerikan.
Yang paling memilukan adalah proses pemakaman. Karena jumlah korban sangat banyak dan banyak jasad tidak utuh, para korban dari kedua kecelakaan dimakamkan dalam satu lubang massal yang sama. Korban pertama dikubur di kedalaman lima meter, sementara korban kedua ditumpuk di galian dua meter di atasnya. Hingga kini, di Kelurahan Balai-Balai, Padang Panjang Barat, sebuah tugu peringatan setinggi hampir dua meter yang menyerupai kepala lokomotif masih berdiri di kompleks pemakaman keluarga Syekh Adam BB, menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
2. Tragedi Bintaro 1987
19 Oktober 1987 masih dianggap sebagai hari paling berdarah dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Di Bintaro, dua kereta api yaitu KA Rangkas (KA 225) adu banteng dengan KA Merak (KA 220).
Akibat benturan hebat tersebut, gerbong-gerbong ringsek, lokomotif melengkung, dan korban berjatuhan. Ada beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah korban tewas mencapai 139, dan ada juga yang menyebut jika jumlah korban tewas 156 jiwa, dengan ratusan lainnya luka-luka.
Tragedi ini lahir dari kelalaian koordinasi antar petugas stasiun Serpong, Sudimara, dan Kebayoran, ditambah peralatan rem yang sudah tua serta jalur yang berkelok.
Peristiwa ini begitu mengguncang Indonesia hingga menginspirasi Iwan Fals menciptakan lagu “1910”. Tabrakan ini tercatat sebagai salah satu yang terburuk, dengan puluhan petugas stasiun mendapat sanksi setelah investigasi panjang.
3. Dua Tabrakan Ratujaya 1968 dan 1993
Daerah Ratujaya, Depok, menjadi lokasi berulangnya duka. Pada 20 September 1968, dua kereta penumpang (KA 406 dan KA 309) bertabrakan di petak Depok-Citayam yang saat itu masih single track. Penyebabnya adalah kesalahan interpretasi sinyal akibat arus liar pada sistem persinyalan tua.
Akibatnya, 116 orang meninggal dunia, 84 luka berat, dan 52 luka ringan. Dua lokomotif rusak parah, salah satunya langsung diafkirkan. Dan kedua PPKA divonis penjara beberapa tahun.
Hampir seperempat abad kemudian, pada 2 November 1993, tragedi serupa terulang. Dua rangkaian KRL Jabodetabek bertabrakan di lokasi yang sama. Lagi-lagi karena misinformasi antar PPKA di Stasiun Depok dan Citayam. Korban tewas sekitar 20 orang (termasuk masinis dan kondektur), dengan ratusan korban lainnya luka-luka. Tabrakan frontal di tikungan membuat gerbong remuk dan penumpang terimpit atau terpental. Dari peristiwa ini mempercepat upaya pembangunan jalur ganda Jakarta-Bogor.
4. Tragedi Empu Jaya di Cirebon, 2001
Pada 2 September 2001 dini hari, KA 146 Empu Jaya bertabrakan dengan lokomotif CC201 yang sedang dilangsir di emplasemen Cirebon. Benturan keras membuat gerbong hancur dan lokomotif terguling. Korban tewas mencapai 42 orang (termasuk masinis dan asisten masinis), dengan 45 luka berat dan 36 luka ringan.
Ironisnya, ini bukan kali pertama Empu Jaya terlibat kecelakaan fatal di tahun itu. Nama “Empu Jaya” yang diambil dari sayembara akhirnya diubah menjadi “Progo” pada 2002 karena dianggap membawa “nasib buruk”.
5. Tabrakan Petarukan 2010
Pada 2 Oktober 2010 subuh, KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KA Senja Utama Semarang di Stasiun Petarukan, Pemalang. KA Senja yang sedang berhenti untuk persilangan dilanggar sinyal oleh Argo Bromo.
Akibatnya, beberapa gerbong terguling dan menimpa rumah warga. Korban tewas tercatat 34-36 orang, dengan puluhan lainnya luka-luka. Hal ini disebut sebagai salah satu tragedi terburuk setelah Bintaro.
6. Tabrakan Cicalengka 2024
Pada 5 Januari 2024, KA Turangga (Surabaya-Bandung) bertabrakan dengan KA Lokal Padalarang-Cicalengka di petak Haurpugur-Cicalengka. Jalur tunggal yang saat itu sedang dalam proses pembangunan jalur ganda. Empat petugas tewas (masinis, asisten masinis, pramugara, dan sekuriti), sementara puluhan penumpang luka-luka.
7. Tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, April 2026
27 April 2026 malam menjadi hari duka terbaru. Sekitar pukul 20.15 WIB, sebuah taksi listrik Green SM mogok di perlintasan sebidang Bulak Kapal/Jalan Ampera dekat Stasiun Bekasi Timur. KRL Commuter Line yang melintas kemudian menabrak taksi tersebut, menyebabkan rangkaian KRL (nomor PLB 5568A, tujuan Kampung Bandan–Cikarang) berhenti darurat di Jalur 1 Stasiun Bekasi Timur.
Akibat gangguan tersebut, antrean kereta arah timur tertahan. Sekitar pukul 20.50–20.57 WIB, KA Argo Bromo Anggrek (PLB 4B) melaju dari arah Jakarta dengan kecepatan tinggi. Masinis melaporkan sinyal masuk stasiun menunjukkan aspek hijau (jalur kosong), meski sebenarnya ada KRL yang sedang berhenti.
Masinis baru menyadari keberadaan KRL di depan saat jarak sudah terlalu dekat. Meski dilakukan pengereman darurat, massa kereta yang besar membuat tabrakan tak terhindarkan. Lokomotif Argo Bromo Anggrek menghantam telak bagian belakang KRL, menyebabkan gerbong terakhir (gerbong khusus wanita) ringsek parah hingga mengalami efek telescoping.
Peristiwa ini menyebabkan korban tewas mencapai 15 orang yang seluruhnya penumpang wanita, sementara 88 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di berbagai rumah sakit di Bekasi dan Jakarta.
Dari peristiwa-peristiwa ini punya pola yang berulang, yaitu terjadi karena human error, sistem persinyalan yang kurang baik, keberadaan perlintasan sebidang liar, serta koordinasi antar petugas yang masih lemah.
Tragedi Bekasi Timur 2026 kini menjadi catatan baru dalam sejarah panjang kecelakaan kereta api Indonesia, dan semoga menjadi momentum terakhir untuk perbaikan mendasar sebelum stasiun-stasiun dan lembah-lembah kita kembali menjadi saksi bisu duka yang tak perlu terulang.



