Suaranya cukup keras. Stasiun di belakang lahan parkir ini, Bang,”
kata seorang penjaga lahan penitipan motor kepada saya (jurnalis owrite.id yang melakukan liputan di lokasi kejadian).
Usai mendapat petunjuk arah, saya bergegas berjalan sekitar 100 meter. Beralaskan sandal selop cokelat, saya mencoba menembus kerumunan ratusan orang yang menyemut di sepanjang Jalan Raya Ir. H. Juanda. Peluh mulai mengucur, membasahi kaus hitam dan jins biru belel yang telah 17 jam melekat di tubuh.
Di udara, sirine ambulans meraung bersahutan. Para pengendara dan pejalan kaki celingak-celinguk, berusaha mencari tahu sumber kemacetan hebat malam itu. Sementara, sejumlah personel kepolisian dibantu warga setempat sibuk mengurai arus lalu lintas yang nyaris terkunci total.
Begitu tiba di parkiran Stasiun Bekasi Timur, pemandangan berubah drastis. Puluhan ambulans, truk pemadam kebakaran, hingga kendaraan dinas TNI-Polri memenuhi area. Percakapan petugas melalui handy-talkie terdengar tumpang tindih di mana-mana.
Saya menaiki tangga menuju area dalam. Di lobi atas ratusan orang telah berkumpul, membentuk barisan dua saf yang memanjang dari pintu masuk hingga tangga peron, menyisakan celah di tengah bagi siapapun yang melintas dalam keadaan darurat.
Saya terus melangkah menuju Peron 1-2. Menuruni tangga, saya diapit oleh barisan petugas medis, staf stasiun, dan aparat yang berjaga ketat. Saat menengok ke kiri, petugas SAR berbaju oranye sedang berjibaku dengan waktu. Mereka sibuk memotong besi-besi kereta yang saling menggencet.
Pemandangan Pilu Menyayat Hati
Pemandangan pilu tersaji di depan mata. Saya melihat seorang perempuan duduk terjepit di antara rangkaian gerbong yang ringsek, ia mengenakan selang oksigen, berhadapan dengan dua korban lainnya. Di serong kanannya, seorang penumpang tergeletak miring ke kanan, menghadap tubuh lain yang terbujur.
Meski peron ini terbuka tanpa tembok penghalang di kedua sisinya, udara terasa mati. Angin tak berembus. Saya dan para petugas yang menjejak lantai yang sama, bersimbah keringat dalam gulita batin.
Suara mesin portable ventilator blower menderu keras, memekakkan telinga, seolah berupaya mengusir bau logam dan duka yang menggantung di langit Jawa Barat.
Senin malam, 27 April 2026, resmi menjadi catatan kelam dalam histori perkeretaapian nasional: KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi menghantam gerbong khusus wanita rangkaian KRL Commuter Line (PLB 5568A) relasi Kampung Bandan-Cikarang yang tengah berhenti darurat.
12 jam saya bertahan di lokasi, tanpa tidur dan terus menahan pilu yang menyesak. Satu per satu kantung jenazah dan korban luka diangkut dari peron menuju ambulans yang menunggu dengan pintu terbuka. Di tengah kesibukan evakuasi, isak tangis keluarga korban pecah, menyayat ruang-ruang stasiun yang pengap.
Saya melihat seorang pria bersandar lunglai di dinding luar elevator. Matanya merah saga, sembab karena lelah menangis. Baginya, dan bagi mereka yang kehilangan, malam itu adalah perwujudan nyata dari pepatah air diminum terasa sembiluan. Segala yang masuk ke tubuh tak lagi memberi hidup.
Sistem Sinyal
Merujuk kesaksian Nofiandri, masinis KA Argo Bromo Anggrek, yang mengendalikan kuda besi dengan kecepatan sekitar 110 km/jam, mengaku terkejut. Dia menduga kuat ada gangguan pada sistem sinyal.
Menurut penjelasannya, sistem operasional kereta memiliki protokol standar yang seharusnya tidak dilanggar, yakni transisi warna lampu sinyal.
Tadi sudah ada informasi dari Pusat Kendali, tapi saya belum sepenuhnya copy (menerima informasi tersebut), sudah keburu sinyalnya merah. Seharusnya sinyal tidak bisa langsung merah, karena dari Bekasi sinyal hijau. Secara koneksi, kalau di sana hijau, di sini maksimal kuning, tidak bisa langsung merah,”
terang Nofiandi.
Hingga permutakhiran data terakhir, 29 April, ada 16 nyawa melayang dan 91 luka-luka akibat insiden ini.
Dosen Bidang Trasnportasi Universitas Indonesia (UI) Tri Tjahjono, meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengevaluasi sistem. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan pengereman dalam kecelakaan tak cukup mencegah kecelakaan.
Persoalan tidak berhenti pada kejadian di lapangan, melainkan pada bagaimana sistem memungkinkan kondisi berisiko tersebut terjadi,”
kata Tri kepada owrite.id.



