Psikolog Meity Arianty, menyebut dugaan kekerasan yang dialami anak-anak di daycare (Taman Penitipan Anak) bisa berdampak trauma pada anak usia dini atau Adverse Childhood Experiences (ACEs).
Trauma ini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan, karena terjadi pada masa neuroplastisitas otak sedang berada di puncaknya.
Secara psikologis dan biologis, pengalaman traumatis yang tidak tertangani dapat mengubah struktur dan fungsi otak anak, terutama pada area amygdala (pusat emosi dan rasa takut) serta prefrontal cortex (pusat kendali logika dan emosi),”
ujar Meity kepada owrite.id.
Meity menjelaskan, dampak jangka panjang tersebut dapat muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Antara lain:
- Anak Akan Sulit Mengelola Stres
Anak yang mengalami trauma sering kali tumbuh menjadi seserang yang memiliki kesulitan dalam mengelola stres. Mereka cenderung lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau perilaku impulsif karena sistem respons stres mereka selalu dalam keadaan “siaga tinggi”.
- Mengganggu Pola Kelekatan
Trauma pada masa pengasuhan dapat mengganggu pembentukan pola attachment (kelekatan). Hal ini berisiko membuat seseorang sulit membangun hubungan yang sehat, memiliki masalah kepercayaan, atau justru menjadi terlalu dependen pada orang lain di masa dewasa.
- Dapat Menghambat Perkembangan Fungsi Otak
Stres kronis akibat trauma dapat menghambat perkembangan fungsi eksekutif otak, yang berdampak pada penurunan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan memecahkan masalah, sehingga sering kali memengaruhi performa akademik maupun profesional.
- Peningkatan Risiko Penyakit Fisik
Penelitian menunjukkan bahwa trauma masa kecil yang berat berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit fisik di masa dewasa, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan sistem imun, dan kelelahan kronis akibat paparan hormon kortisol yang berlebihan dalam jangka waktu lama.
Namun, Meity menekankan bahwa meskipun dampaknya serius, trauma ini bukan “vonis” mati.
Dengan intervensi psikologis yang tepat, lingkungan yang kembali aman, dan dukungan emosional yang konsisten, anak memiliki kapasitas resiliensi untuk pulih dan menata kembali perkembangan mentalnya,”
tandasnya.
Dua Kasus Kekerasan di Daycare
Seperti diketahui, belum lama ini ramai penitipan anak (daycare) bernama Little Aresha, yang berlokasi di kawasan Sorosutan, Umbulharjo diduga melakukan kekerasan fisik pada anak-anak.
Dari total 103 anak yang terdaftar, sebanyak 53 anak terbukti menjadi korban kekerasan fisik, sementara 13 orang yang terlibat dalam praktik tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka.
Selain di Yogyakarta, kejadian serupa juga terjadi di Daycare Baby Preneur (DBP) di Lamgugob, Aceh. Sebuah video dari CCTV beredar di X yang memperlihatkan perlakuan kasar terhadap anak-anak di daycare.
Terlihat beberapa anak tampak dipukul, ditarik, dijewer, hingga dilempar. Video tersebut memunculkan kemarahan publik.





