Wacana pemangkasan potongan tarif aplikasi Gojek dari 20 persen menjadi maksimal 8 persen yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Buruh Internasional 2026, pada 1 Mei lalu di Monas, memicu berbagai tanggapan dari kalangan pengemudi ojek online (ojol).
Sejumlah driver menyambut positif rencana tersebut, namun tidak sedikit yang meragukan implementasinya tanpa adanya tekanan lanjutan.
Salah satu driver Gojek, Satria mengaku skeptis terhadap realisasi kebijakan tersebut. Ia menilai penurunan potongan hingga 8 persen sulit dilakukan dalam waktu dekat, kecuali ada dorongan kuat dari para driver, seperti aksi demonstrasi.
Kalau menurut saya sih, nggak bakalan, soalnya berat. Kecuali entar ada peristiwa lagi, kayak harus demo lagi. Kalau langsung sih, gak mungkin 8 persen. Kayak dulu BHR gitu.”
kata Satria saat diwawancarai Owrite.id di kawasan Blok M.
Menurut Satria, potongan sebesar 20 persen yang berlaku saat ini masih dirasa kurang adil. Ia juga menyoroti ketidakjelasan besaran potongan yang diterima, meski secara umum berada di kisaran tersebut.
Selain itu, pendapatan yang diperoleh dinilai belum tentu mampu menutup biaya operasional, seperti bahan bakar, terutama jika jumlah order harian terbatas.
Kurang sih, Kurang adil menurut saya. Kadang nggak jelas juga potongannya. Tapi rata-rata 20 persen”
ujarnya.
Selain itu, Naswardy pengemudi Gojek lainnya menyatakan, dukungannya terhadap wacana penurunan potongan tarif aplikasi.
Ia menilai kebijakan tersebut akan sangat membantu meningkatkan kesejahteraan driver, meskipun ia tetap meragukan kepastian realisasinya.
Ya kalau itu mah seneng, sangat membantu kami sebagai driver. Cuma kadang-kadang kan cuma janji-janji doang nggak pasti gitu lho,”
tutur Naswardy.
Naswardy juga mengungkapkan bahwa potongan yang diterapkan saat ini kerap melebihi angka 20 persen.
Menurutnya, dalam beberapa kondisi, potongan bahkan dapat mencapai lebih dari 50 persen, dengan kisaran umum antara 30 hingga 35 persen.
Oh yang sekarang mah nggak, bukan 10 persen 20 persen lagi. Sekarang mah ada yang sampai 55 persen. Kebanyakan itu 30-35 persen potongannya.”
lanjutnya.
Pria yang sudah 10 tahun berprofesi sebagai ojol tersebut, turut menyoroti kemungkinan adanya penyesuaian tarif perjalanan yang menyertai penurunan potongan.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat manfaat yang diterima driver menjadi tidak signifikan jika tarif dasar turut diturunkan.
Saat ditemui di kawasan Kebayoran, Naswardy berharap potongan tarif dapat dikembalikan sesuai dengan kesepakatan awal, yakni sebesar 20 persen.
Ya kami sebagai driver, kalau bisa itu potongan itu dikurangin sesuai dengan perjanjian waktu pertama kali buka aja lah gitu, 20 persen.”
katanya.
Hingga kini, pihak Gojek belum memberikan pernyataan resmi terkait rencana pemangkasan potongan tarif aplikasi menjadi maksimal 8 persen.




