Nilai tukar rupiah kembali tersungkur terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini menjadi yang terburuk dalam sejarah dan dinilai bukan berasal dari satu faktor tunggal, melainkan akumulasi sentimen global dan domestik yang datang bersamaan.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede, mengatakan rupiah saat ini sudah memasuki fase pelemahan yang cukup dalam, dengan posisi di kisaran Rp17.353 per dolar AS. Faktor eksternal menjadi pemicu utama, terutama meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz, membuat harga minyak melonjak dan dolar AS kembali menguat. Brent sempat menembus US$114 per barel, sehingga pasar langsung menghitung risiko terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia,”
ujar Josua melalui pesan singkatnya kepada Owrite.id.
Kondisi tersebut dinilai memperbesar tekanan terhadap rupiah, karena berpotensi meningkatkan beban impor migas, subsidi energi, hingga tekanan terhadap neraca transaksi berjalan.

Dolar AS Menguat, Suku Bunga Global Jadi Penahan
Selain faktor geopolitik, Josua mengatakan pasar global juga masih melihat arah suku bunga dunia yang belum akan longgar dalam waktu dekat. Ekspektasi bahwa bank sentral negara maju masih mempertahankan suku bunga tinggi turut memperkuat posisi dolar AS.
Josua menilai, selama harga minyak masih tinggi dan belum ada sinyal kuat penurunan suku bunga global, aset negara berkembang—including rupiah—akan tetap berada dalam tekanan.
Selama Selat Hormuz masih terganggu dan belum ada kepastian perdamaian, dolar berpotensi tetap kuat. Ini membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas,”
jelasnya.

Inflasi Rendah dan Sinyal Lemah Sektor Riil
Sementara itu dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh data inflasi April 2026 yang melandai. Inflasi tercatat hanya 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan.
Meski positif bagi daya beli, kondisi ini justru dipersepsikan pasar sebagai sinyal bahwa Bank Indonesia belum memiliki urgensi kuat untuk menaikkan suku bunga guna menopang rupiah.
Inflasi yang rendah memang baik untuk masyarakat, tapi dalam situasi tekanan kurs, pasar justru mencari sinyal kebijakan yang lebih agresif. Ini yang membuat rupiah tetap tertekan,”
kata Josua.
Selain itu, sektor riil juga mulai menunjukkan pelemahan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke level 49,1, mengindikasikan kontraksi aktivitas industri.
Tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi, ditambah melemahnya output dan kepercayaan bisnis, semakin memperburuk sentimen terhadap rupiah.
Rupiah Berpotensi Masih Melemah
Josua memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang Mei hingga sebagian kuartal II-2026, terutama jika tiga faktor utama belum berubah yaitu:
- Harga minyak tetap tinggi,
- Ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, dan
- Arus modal asing belum kembali stabil.
Dalam skenario dasar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.500 per dolar AS dalam jangka pendek.
Penguatan rupiah butuh dukungan eksternal, terutama penurunan harga minyak dan membaiknya sentimen global. Tanpa itu, tekanan masih akan bertahan,”
ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun Bank Indonesia masih memiliki instrumen untuk menahan volatilitas seperti intervensi pasar, SRBI, dan DNDF, penguatan rupiah yang berkelanjutan tetap sangat bergantung pada faktor global.

