Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sekitar Rp17.424 per dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya gejolak geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Menurut pengamat tambang dan energi Ferdi Hasiman, lemahnya Rupiah cukup mempengaruhi dari sisi energi. Bahkan, sektor batu baru hingga nikel tidak akan berpengaruh apapun bagi penerimaan negara.
Meski RI terbilang kaya dengan sumber daya batu bara dan nikel, namun impor dari sisi migas tetap menjadi beban utama, dengab transaksi yang seluruhnya menggunakan mata uang dolar.
Kalau semakin banyak belanja impor, termasuk minyak dan CNG, itu kan bayarnya pakai dolar. Nah, gak ngaruh (walaupun penerimaan negara dari sisi batu baru dan nikel besar),”
kata Ferdi pada owrite, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya, tingginya impor energi menjadi persoalan struktural yang selama ini belum terselesaikan. Indonesia masih harus mengimpor BBM dalam jumlah besar, bahkan mencapai lebih dari satu juta barel per hari.
Di sisi lain, kebijakan untuk menambah pasokan energi dari luar negeri, seperti impor gas dari Amerika Serikat, justru berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan.
Masalahnya impor kita terlalu besar. Impor BBM dan LPG saja sudah tinggi, sekarang ditambah lagi dengan CNG yang jaraknya jauh dari Amerika. Ini akan memperlebar defisit,”
ujarnya.
Ferdi menegaskan, bahwa meskipun Indonesia memiliki komoditas unggulan seperti batu bara dan nikel yang menghasilkan devisa dalam dolar, hal tersebut belum cukup untuk menambah pemasukan negara.
Pemasukan dari batu bara dan nikel itu ada, tapi tidak cukup. Jadi tetap saja rupiah tertekan,” tutupnya.



