Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mengakhiri operasi militernya terhadap Iran. Tidak hanya itu, operasi Angkatan Laut AS untuk memandu kapal-kapal komersial yang tertahan di Selat Hormuz juga ditangguhkan dalam beberapa hari.
Penghentian Operasi Epic Fury tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio, sementara untuk operasi di Selat Hormuz diumumkan oleh Donald Trump.
Operasinya (Epic Fury) sudah selesai. Seperti yang presiden sampaikan kepada Kongres, kita sudah menyelesaikan tahap itu. Sekarang kita beralih ke Freedom Project,”
kata Rubio dikutip dari The Hill, Rabu, 6 Mei 2026.
Presiden Trump diketahui telah memberi tahu Kongres pada pekan lalu, dua bulan setelah ia pertama kali memberi tahu Kongres tentang tindakan militer terhadap Iran bahwa gencatan senjata AS dengan Iran belum melampaui batas waktu 60 hari, yang diberlakukan oleh Undang-Undang Kekuatan Perang AS tahun 1973.
Trump juga mengatakan kepada Kongres dalam sebuah surat bahwa selama gencatan senjata yang dimulai pada 7 April, perang resmi berakhir.
Sejak itu, Trump telah mengesahkan ‘Freedom Operation‘, namun ketegangan meningkat setelah Iran melepaskan tembakan, pada Senin, 4 Mei 2026, ke arah kapal perang AS di Selat Hormuz, yang kemudian dibalas oleh militer AS dengan menghancurkan tujuh perahu cepat Iran.
Operasi Kawal Kapal di Selat Hormuz Dihentikan

Sementara itu, tak lama setelah pengumuman Rubio terkait Operasi Epic Fury yang telah berakhir, Trump menekankan bahwa operasi untuk membantu kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz resmi dihentikan untuk jangka waktu yang singkat.
Trump mengatakan bahwa ‘Freedom Project‘ dihentikan atas kesepakatan bersama karena kemajuan besar telah dicapai dengan Iran. Namun, Iran memiliki pandangan lain.
Kami telah sepakat bahwa, meskipun Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, ‘Project Freedom‘ (Pergerakan Kapal melalui Selat Hormuz) akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat guna melihat apakah perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,”
tulis Trump, dikutip oleh BBC Internasional, Rabu, 6 Mei 2026.
Kekalahan Telak AS Terhadap Iran
Media Pemerintah Iran justru menyebutnya sebagai kekalahan telak Donald Trump karena AS mundur dari operasi tersebut. Keputusan AS untuk berhenti juga menunjukkan bahwa Trump gagal untuk membuka Selat Hormuz.
Dalam unggahan di akun resmi media sosialnya, Trump mengatakan bahwa ia telah membuat keputusan tersebut karena permintaan Pakistan, yang telah bertindak sebagai perantara damai antara AS dan Iran. Namun, blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berlaku.
Pengumuman Trump mungkin mengejutkan sebagian orang. Hal ini melemahkan pesan yang disampaikan Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, yang semuanya berjanji bahwa operasi tersebut akan memastikan kebebasan navigasi perdagangan di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Kami lebih memilih jalan perdamaian. Yang lebih disukai Presiden (Donald Trump) adalah kesepakatan,”
imbuh Rubio.


