Iran baru-baru ini mengungkap rencana mereka pada Arab Saudi dan Oman untuk menyerang secara besar-besaran Uni Emirat Arab (UEA). Langkah ini diambil untuk menciptakan perpecahan antara Abu Dhabi dan negara-negara tetangganya di Teluk.
Laporan pertama kali dirilis oleh The Wall Street Journal yang diterbitkan pada minggu lalu. Mereka menyebut bahwa ketegangan antara UEA dan negara-negara tetangganya di Teluk, khususnya Arab Saudi, telah memanas selama bertahun-tahun.
Keluarnya UEA dari OPEC bulan ini juga sebagai tanda terbaru bahwa perang melawan Iran memperburuk ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi, alih-alih menyatukan mereka.
Dalam satu percakapan, para pejabat Iran dilaporkan mengatakan kepada rekan-rekan mereka di Saudi bahwa mereka berencana untuk menghancurkan UEA, dan menyinggung keretakan Riyadh dengan Abu Dhabi.
Meski demikian, laporan tersebut tidak menyebutkan kapan percakapan itu terjadi, tetapi menambahkan bahwa para pejabat Saudi tidak menyetujui pembahasan tersebut.
Hubungan Rumit Arab Saudi – UEA
Meskipun Arab Saudi marah kepada Iran, kedua negara tetap menjaga dialog. Hal ini terlihat saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara bulan lalu dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan.
Peringatan Iran pada UEA juga menunjukkan bahwa mereka menyadari keretakan di Teluk dan melihat manfaat strategis dalam mendorong para raja Arab, yang semuanya adalah mitra AS untuk semakin menjauh.
Arab Saudi memang negara terbesar di kawasan itu, dan seperti UEA, mereka memiliki ambisi untuk memproyeksikan kekuatan di luar negeri. Bahkan, Arab Saudi menyerang sekutu UEA di Yaman tepat sebelum perang melawan Iran meletus. Kedua negara mendukung pihak yang berlawanan dalam perang saudara Sudan.
Tidak satu pun negara yang berhenti bermanuver melawan satu sama lain selama perang.
Alasan Lain Iran Murka ke UEA
Laporan lain dari Middle East Eye, dikutip Selasa, 5 Mei 2026, mengungkapkan bahwa pengiriman senjata dari Pakistan yang dibayar oleh Arab Saudi mulai tiba di Libya timur untuk Khalifa Haftar pada bulan Maret, yang pasukannya sedang diupayakan Riyadh untuk ditarik dari UEA.
Baik Arab Saudi maupun UEA, keduanya telah membantu AS melancarkan perang terhadap Iran dengan menyediakan akses pangkalan dan penerbangan lintas wilayah yang lebih baik. Namun, Arab Saudi tetap mendukung adanya pembicaraan damai.
Hal terebut berbeda dengan UEA, yang telah melobi secara terbuka dan pribadi agar AS terus menyerang Iran dan telah mencoba mencegah Pakistan untuk mempertemukan AS dan Iran dalam pembicaraan damai
Faktor lainnya yang membuat Iran cukup geram adalah perang di negaranya justru mempererat kemitraan antara UEA dan Israel. Israel sempat mengirimkan sistem pertahanan laser dan senjata canggih lainnya ke UEA selama serangan Iran, seperti yang dilaporkan oleh The Financial Times.
Bahkan, terdapat spekulasi bahwa UEA bergabung dengan AS dan Israel dalam menyerang Iran. Jatuhnya pesawat tak berawak Wing Loong II buatan China di wilayah Shiraz selatan Iran bulan lalu pun memicu pertanyaan di kalangan analis intelijen sumber terbuka tentang apakah UEA melakukan serangan udara di dalam Iran.
Meski demikian, UEA adalah negara yang sangat rentan terhadap serangan Iran, karena menjadi salah satu negara Teluk yang paling terbuka bagi pengunjung internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Dubai pun telah berkembang pesat sebagai pusat pariwisata, mata uang kripto, dan keuangan.
Beberapa hotel ternama di Dubai menawarkan harga diskon dan mengalami tingkat hunian rendah. Burj Al Arab, salah satu hotel paling terkenal di negara kota itu, telah ditutup selama 18 bulan untuk renovasi. Hotel itu diketahui terkena proyektil dari Iran pada awal perang.
Terlepas dari biaya yang dikeluarkan, UEA telah muncul sebagai negara Teluk yang paling vokal menentang Iran.
Dalam laporan Middle East Eye sebelumnya juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa Abu Dhabi siap menghadapi perang yang berlangsung hingga sembilan bulan.

