Cara memilah sampah tentu susah-susah gampang, namun hal itu harus dilakukan agar tidak mencemari lingkungan. Ya, permasalahan sampah hingga kini masih menjadi permasalahan dunia, termasuk di Indonesia. Volume sampah rumah tangga yang terus meningkat tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memicu berbagai persoalan lain seperti banjir, polusi udara, hingga perubahan iklim akibat penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Karena itu, kesadaran masyarakat untuk mengurangi dan memilah sampah dari rumah menjadi langkah penting dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Dengan memilah sampah, tidak hanya mempermudah proses daur ulang, tetapi juga mengurangi jumlah limbah yang berakhir di TPA.
Selain mengurangi penggunaan barang sekali pakai, masyarakat juga perlu bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sehari-hari. Salah satu langkah paling sederhana yang dapat dilakukan adalah memisahkan sampah berdasarkan jenisnya sejak dari rumah.
Manfaat Memilah Sampah di Rumah
Memilah sampah memiliki banyak manfaat, baik untuk lingkungan maupun kesehatan. Dilansir dari Zero Waste Indonesia, dengan memisahkan antara sampah basah dan kering, dapat mencegah timbulnya bau tidak sedap serta mengurangi perkembangan bakteri.
Selain itu, pemilahan sampah juga dapat membantu mencegah bercampurnya limbah berbahaya. Dengan terbiasa memilah sampah, kamu juga dapat mempermudah proses pengolahan dan daur ulang sampah.
Karena, sampah yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya akan lebih mudah dimanfaatkan kembali, baik menjadi kompos, bahan kerajinan, maupun produk daur ulang lainnya. Langkah ini sekaligus membantu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA sehingga pencemaran lingkungan dapat ditekan.
Jenis-Jenis Sampah yang Perlu Dipilah
Secara umum, sampah rumah tangga dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3. Ketiga jenis sampah ini memiliki karakteristik dan cara pengolahan yang berbeda sehingga perlu dipisahkan sejak awal.
- Sampah Organik
Sampah organik merupakan jenis sampah yang berasal dari bahan alami dan dapat terurai secara biologis. Contohnya sisa makanan, daun, ranting, kulit buah, dan sayuran. Sampah organik dibagi menjadi dua kategori, yakni sampah organik basah dan sampah organik kering.
Sampah organik basah biasanya mengandung kadar air tinggi, seperti sisa makanan berkuah, kaldu, tulang, dan sisa makanan lainnya. Sementara itu, sampah organik kering meliputi daun kering, ranting, kulit buah, hingga sisa sayuran mentah seperti daun bawang, pakcoy, kangkung, dan seledri.
Pengolahan sampah organik dapat dilakukan dengan berbagai cara sederhana di rumah. Misalnya, sampah organik basah dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan peliharaan, dimasukkan ke lubang biopori, atau dikubur di tanah agar cepat terurai.
Sedangkan sampah organik kering dapat diolah menjadi pupuk kompos, eco-enzyme, hingga digunakan kembali untuk menanam sayuran dengan metode regrow.
- Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah jenis sampah yang sulit terurai secara alami dan memerlukan proses pengolahan khusus. Contohnya seperti plastik, kaleng, kaca, dan kertas. Sebelum diolah atau didaur ulang, sampah anorganik sebaiknya dikumpulkan, dipisahkan berdasarkan jenis, lalu dibersihkan agar tidak menimbulkan bau dan lebih mudah untuk didaur ulang.
Kaleng bekas seperti kemasan susu atau biskuit bisa dikreasikan sebagai tempat penyimpanan alat tulis, wadah aksesori, atau pot tanaman. Namun, jika kamu tidak ingin menggunakan kembali, kaleng bisa disetorkan ke bank sampah untuk didaur ulang.
Sementara itu, sampah plastik menjadi salah satu jenis limbah rumah tangga yang paling banyak ditemukan. Plastik bekas bungkus makanan, botol minuman, dan kemasan minyak goreng dapat dicuci, dikeringkan, lalu dimanfaatkan kembali menjadi barang berguna.
Salah satu cara pengolahan plastik yang cukup populer adalah ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi penuh dengan sampah plastik bersih dan kering hingga padat untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana atau furniture.
Kemasan tetra pack yang biasa digunakan untuk susu atau minuman kotak juga perlu dipisahkan secara khusus karena terdiri dari campuran karton, plastik, dan aluminium. Sampah jenis ini sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu sebelum disetorkan ke bank sampah atau tempat daur ulang.
Selain itu, limbah elektronik seperti baterai, charger, power bank, dan DVD tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung bahan berbahaya. Sampah elektronik perlu dikumpulkan secara terpisah dan diserahkan ke tempat pengolahan limbah elektronik resmi.
Popok bayi dan pembalut sekali pakai juga menjadi salah satu jenis sampah yang sulit terurai. Penggunaan produk ramah lingkungan seperti menstrual cup, pembalut kain, atau cloth diaper mulai dianjurkan untuk mengurangi jumlah limbah rumah tangga yang mencemari lingkungan.
- Sampah B3
Sampah B3 merupakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang memerlukan penanganan khusus. Contohnya seperti obat kadaluarsa, cairan kimia, baterai, dan beberapa jenis lampu. Jika dibuang sembarangan, limbah ini dapat mencemari tanah dan sumber air serta membahayakan kesehatan manusia.
Karena itu, sampah B3 sebaiknya disimpan secara terpisah dan diserahkan ke fasilitas kesehatan, puskesmas, atau tempat pengolahan limbah resmi agar dapat dimusnahkan dengan aman tanpa mencemari lingkungan.
Memilah sampah di rumah merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Dengan pengelolaan sampah yang baik, jumlah limbah yang menumpuk di TPA dapat dikurangi sekaligus membantu proses daur ulang berjalan lebih efektif.


