Nilai tukar rupiah telah kehilangan kekuatannya lebih dari 5 persen secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd). Dampak anjloknya rupiah juga telah menembus jantung perekonomian riil dan stabilitas ekonomi.
Pada perdagangan Kamis pagi, 14 Mei 2026, nilai tukar rupiah masih melemah di level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) atau 0,14 persen.
“Pelemahan rupiah ke level 17.500 bukan sekadar angka di layar, dampaknya telah merembes ke jantung perekonomian riil. Sektor manufaktur yang sangat bergantung pada komponen impor menghadapi tekanan margin yang luar biasa,”
ujar Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita laporannya Kamis, 14 Mei 2026.
Di sektor manufaktur, Ronny mengatakan kombinasi kenaikan biaya energi global dan depresiasi rupiah telah memaksa banyak perusahaan melakukan efisiensi ekstrem, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK). Ancaman nyata bagi pekerja ini diperkirakan akan terus menghantui sepanjang 2026.
“Ancaman PHK ini diprediksi akan terus membayangi sepanjang tahun 2026 jika stabilitas nilai tukar tidak segera tercapai.”
kata dia.
Penurunan daya beli masyarakat juga menjadi konsekuensi yang tak terelakkan. Meskipun inflasi resmi April 2026 tercatat rendah di 2,42 persen tetapi harga barang-barang impor (imported inflation) mulai merangkak naik, terutama pada produk elektronik, farmasi, dan pangan olahan.
“Keyakinan konsumen berada pada titik terendah dalam lima bulan terakhir karena kekhawatiran akan kepastian pendapatan dan kenaikan biaya hidup,”
tutur Ronny.
Di sisi fiskal, Ronny mengatakan pelemahan rupiah menambah beban pembayaran bunga utang luar negeri dan subsidi energi. Setiap pelemahan Rp100 per dolar AS diperkirakan akan berdampak besar terhadap defisit Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Setiap pelemahan Rp100 per dolar AS secara rata-rata tahunan memiliki implikasi besar terhadap defisit APBN. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa ruang fiskal untuk stimulus ekonomi akan habis sebelum tahun berakhir, terutama dengan beban belanja negara yang sudah sangat berat untuk membiayai program-program strategis pemerintah baru,”
jelas Ronny.
Intervensi Belum Efektif?
Ronny menyebut kritik tajam sering diarahkan kepada Bank Indonesia (BI) atas kegagalan mencegah rupiah menembus level 17.500. BI sebenarnya tidak tinggal diam karena ada tujuh langkah strategis untuk stabilisasi nilai tukar.
Namun, hasil dari berbagai kebijakan ini dinilai kurang bertenaga, lantaran terdapat beberapa kendala struktural dan taktis yang dihadapi otoritas moneter.
Pertama, BI terjebak dalam ‘impossible trinity‘ yakni bank sentral tidak bisa secara bersamaan mengontrol nilai tukar, memiliki kebijakan moneter independen, dan mobilitas modal bebas.
“Di tengah arus modal keluar yang masif, upaya menjaga suku bunga rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik menjadi kontradiktif, dengan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga guna menjaga daya tarik rupiah terhadap dolar AS yang memiliki yield tinggi,”
kata dia.
Kedua, penyusutan cadangan devisa memberikan sinyal negarif kepada investor. Meskipun BI mengklaim cadangan devisa memadai di level US$146,2 miliar per April 2026, angka ini terus menurun dari posisi sebelumnya yakni US$148,2 miliar pada Maret 2026.
Penurunan ini sebagian besar digunakan untuk pembayaran utang luar negeri dan biaya intervensi pasar yang sangat mahal.
“Tren penyusutan selama empat bulan berturut-turut telah memberikan sinyal negatif kepada pasar mengenai kemampuan BI untuk terus melakukan intervensi jangka panjang,”
terang dia.
Ketiga, muncul narasi kritis otoritas moneter cenderung mengabaikan realitas pasar yang memburuk (denial) dan lebih fokus pada retorika stabilitas yang tidak didukung oleh data fundamental.
“Kegagalan dalam mengantisipasi kecepatan perubahan sentimen global, terutama dampak konflik Selat Hormuz terhadap harga minyak, membuat respons kebijakan BI seringkali bersifat reaktif bukan proaktif,”
tutur Ronny.
Keempat ,keterbatasan pasokan valas domestik, meskipun Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, nilai surplus tersebut menyusut tajam karena pertumbuhan impor yang jauh melampaui ekspor. Akibatnya, pasokan valas dari sektor riil tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan dari sektor korporasi yang perlu membayar utang dan dividen, serta kebutuhan impor energi.
Perjalanan Nilai Tukar
Ronny menjelaskan perjalanan rupiah menuju level Rp 17.500 dimulai dari tren pelemahan yang konsisten sejak akhir tahun 2025. Sepanjang tahun 2025, nilai tukar bergerak di kisaran rata-rata Rp16.475 per dolar AS, namun tekanan mulai mengakselerasi menjelang penutupan tahun.
Memasuki awal 2026, rupiah mulai menunjukkan kerapuhan yang signifikan terhadap sentimen global. Pada Januari 2026, nilai tukar telah berada di level Rp16.860, lalu rupiah tembus level Rp17.000 pada awal April 2026 menjadi sinyal awal bagi pasar bahwa intervensi BI mulai menemui titik jenuh.
Meskipun sempat terjadi penguatan teknis selama beberapa hari pada awal Mei, sentimen negatif kembali mendominasi pasar, hingga mencatatkan pelemahan terdalam di level Rp17.425 pada 5 Mei 2026, sebelum akhirnya menyerah pada tekanan pasar dan menembus Rp17.505 pada 12 Mei 2026.
“Secara tahun kalender berjalan rupiah telah kehilangan lebih dari 5 persen nilainya, sebuah angka yang mencerminkan hilangnya kepercayaan pasar terhadap aset-aset berdenominasi rupiah dalam jangka pendek,”
ucap Ronny.

