Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai US$433,4 miliar, atau naik dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar US$431,7 miliar. Kenaikan ini disebabkan oleh ULN sektor publik dan swasta.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan secara tahunan utang luar negeri Indonesia tumbuh sebesar 0,8 persen atau melambat dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 1,9 persen.
Posisi ULN Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat sebesar US$433,4 miliar, atau secara tahunan tumbuh sebesar 0,8 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 sebesar 1,9 persen. Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta,”
ujar Denny dalam keterangannya Senin, 18 Mei 2026.
Terjaganya Kepercayaan Investor
Denny mengungkapkan, posisi ULN pemerintah pada kuartal I-2026 sebesar US$214,7 miliar, atau tumbuh sebesar 3,8 persen secara year on year (yoy) lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 sebesar 5,5 persen yoy.
Ia menjelaskan, perkembangan ULN pemerintah ini utamanya dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah,”
tuturnya.
Sementara itu, posisi ULN swasta pada kuartal I-2026 tercatat sebesar US$191,4 miliar, atau turun dibandingkan dengan posisi pada kuartal IV-2025 sebesar US$194,2 miliar, yang mana secara tahunan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen yoy.
Penurunan posisi ULN terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang secara tahunan masing-masing tercatat kontraksi sebesar 3,6 persen yoy dan 1,3 persen yoy,”
katanya.
Utang Swasta Jangka Panjang
Adapun ULN swasta ini kata Denny, didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6 persen terhadap total ULN swasta.
Meski demikian, Denny menuturkan struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Kondisi ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada kuartal I-2026 dari 30,0 persen pada kuartal IV-2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4 persen dari total ULN.
Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,”
imbuhnya.


