Pengamat Ekonomi, Yanuar Rizky menilai pemerintah saat ini semakin ketergantungan pada utang untuk membiayai berbagai program dan kebijakan ekonomi. Menurutnya, kondisi ini perlu diwaspadai karena keuangan negara sedang menghadapi banyak tekanan.
Yanuar mengungkapkan bahwa, pemerintah terus mendorong berbagai program berskala besar di tengah kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih mengalami defisit.
Menurut dia, pendekatan ekonomi yang memperbesar peran negara membutuhkan fondasi penerimaan negara yang kuat. Namun, beban pembayaran bunga dan cicilan utang pemerintah juga terus bertambah.
Persoalannya sekarang APBN kita bukan surplus, yang ada defisit,”
ujar Yanuar.
Fokus Jaga Kemampuan Negara Bayar Utang
Ia menilai pemerintah terlalu fokus pada indikator rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai ukuran keamanan ekonomi. Padahal, menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan negara membayar kewajiban utang dari penerimaan negara.
Yanuar mengatakan kondisi ekonomi tidak cukup dilihat dari angka statistik semata, tetapi juga harus dilihat dari kekuatan riil fiskal negara dan daya tahan ekonomi masyarakat.
Yang jelas kita nggak hidup dari statistik, kita hidup dari punya uang apa kagak,”
lanjutnya.

Pelemahan Rupiah
Ia juga menyoroti munculnya tekanan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan pemerintah.
Menurut dia, pasar akan bereaksi ketika melihat adanya risiko ketidakpastian ekonomi maupun fiskal. Karena itu, pemerintah diminta tidak menganggap kritik terhadap kondisi ekonomi sebagai bentuk serangan politik.
Selain itu, Yanuar menilai pemerintah perlu membangun komunikasi yang lebih terbuka kepada publik terkait kondisi ekonomi nasional agar tidak memunculkan ketidakpercayaan di masyarakat maupun pasar.
Kan harusnya kan membangun komunikasi ke dalam,”
lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap utang dapat menjadi risiko jika tidak diimbangi dengan penguatan penerimaan negara, stabilitas ekonomi, serta kepercayaan investor dan masyarakat.
Yang penting bukan hanya statistiknya terlihat aman, tapi apakah kemampuan keuangan negara memang kuat,”
kata dia.


